Hutan Indonesia: Paru-paru dunia yang selalu di bawah ancaman

Hutan Indonesia: Paru-paru dunia yang selalu di bawah ancaman
Hutan Indonesia: Paru-paru dunia yang selalu di bawah ancaman
Hutan Indonesia: Paru-paru dunia yang selalu di bawah ancaman, Sebagai tindakan preventif, Greenpeace Indonesia telah mengaktifkan kembali Tim Cegah Api sejak tahun lalu.
JAKARTA – Minggu, 28 Mei 2023, Indonesia memiliki salah satu hutan hujan tropis terbesar di seluruh dunia. Hutan hujan ini merupakan paru-paru dunia – tempat penyerapan karbon terjadi dan kemudian melepaskan oksigen untuk kita nikmati sehari-hari. Sayangnya, Hutan Indonesia  masih terus dihantui berbagai ancaman yang mengintai.
Berikut beberapa ancaman terhadap hutan Indonesia di tahun 2023 ini:

Kebakaran hutan akibat El Nino Setelah tiga tahun mengalami tahun yang basah, Indonesia di tahun 2023 akan mengalami tahun yang lebih kering. Hal ini dikarenakan El Nino akan mulai terjadi di tahun ini. Salah satu dampak dari tahun yang lebih kering ini adalah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di awal tahun ini, BMKG telah memperingatkan bahwa di bulan Agustus dan September dapat terjadi risiko karhutla yang lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau tahun 2020 hingga 2022. Karhutla menjadi penting untuk dicegah, sebab karhutla adalah salah satu penyumbang emisi terbesar di Indonesia.

Sebagai tindakan preventif, Greenpeace Indonesia telah mengaktifkan kembali Tim Cegah Api sejak tahun lalu. Klik dan tonton video di bawah ini untuk mendengarkan kisah mereka yang turun menjadi relawan.

Hutan Indonesia: Paru-paru dunia yang selalu di bawah ancaman
Menjadi Relawan Pencegah Kebakaran Hutan Deforestasi oleh produsen kertas

 

Hutan Indonesia memang gudangnya sumber daya alam. Tapi, manusia seringkali lupa bahwa hutan pun perlu dijaga kelestariannya – bukan hanya dikeruk dan kemudian menyebabkan bencana.

Salah satu ancaman besar hutan di Kalimantan adalah deforestasi oleh produsen kertas. Laporan investigasi terbaru menemukan bahwa deforestasi masih terjadi dalam rantai pasok produsen kertas terbesar dunia Grup Royal Golden Eagle (RGE). Hal ini bertolak belakang dengan komitmen ‘Bebas Deforestasi’ yang digaungkan dalam kerangka keberlanjutan mereka sejak tahun 2015.

Tak hanya di rantai pasok, ancaman deforestasi juga terjadi dengan dibangunnya pabrik pulp berskala besar d Kalimantan Utara. Pabrik ini masih berhubungan dengan Grup RGE. Padahal pembangunan pabrik semacam ini sebelumnya telah menyebabkan deforestasi parah di Sumatera. “Pola seperti itu bisa terulang kembali. Pembangunan pabrik ini adalah tanda bahaya gelombang baru deforestasi skala industri,” ujar Syahrul Fitra, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Team Redaksi

Indonesia jurnalis.com 20240701 090538

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

" Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini "