Perjuangan Orpha Dan Seluruh Masyarakat Adat Di Indonesia Belum Berakhir, CBD COP 15 Hanyalah Sebuah Awal Dari Perjuangan

Perjuangan Orpha Dan Seluruh Masyarakat Adat Di Indonesia Belum Berakhir, CBD COP 15 Hanyalah Sebuah Awal Dari Perjuangan
Perjuangan Orpha Dan Seluruh Masyarakat Adat Di Indonesia Belum Berakhir, CBD COP 15 Hanyalah Sebuah Awal Dari Perjuangan
Perjuangan Orpha Dan Seluruh Masyarakat Adat Di Indonesia Belum Berakhir, CBD COP 15 Hanyalah Sebuah Awal Dari Perjuangan melindungi hak masyarakat adat sekaligus menyelamatkan keanekaragaman hayati Indonesia.
JAKARTA – Konvensi internasional yang membahas tentang keanekaragaman hayati (CBD COP-15) menjadi ajang bagi para wakil masyarakat adat di seluruh dunia untuk mendorong pemimpin global mengakui bahwa kemampuan dan pengetahuan masyarakat adat tentang keanekaragaman hayati adalah cara terbaik untuk menjaga keanekaragaman hayati itu sendiri.

 

Orpha Joshua, masyarakat adat yang berasal dari Suku Namblong, Lembah Garime Nawa, Papua, Indonesia. Ia berpartisipasi dalam CBD COP-15 mewakili komunitasnya dan Organisasi Perempuan Adat Suku Namblong. Orpha bersama masyarakat adat di Lembah Grime Nawa berjuang menyelamatkan ruang hidup mereka dari pembalakan hutan ilegal. Lembah Grime Nawa yang menjadi rumah bagi Orpha dan komunitasnya, juga merupakan tempat yang kaya keanekaragaman hayati, termasuk habitat cendrawasih yang menjadi simbol adat dan budaya Papua. Dengan begitu, hasil dari CBD COP-15 ini sangat berarti bagi Orpha dan komunitas masyarakat adat setempat.

 

Konvensi keanekaragaman hayati ini akhirnya membuahkan hasil yang diharapkan: pengakuan bahwa pekerjaan yang dilakukan, pengetahuan, hingga praktik dari masyarakat adat adalah alat yang paling efektif untuk perlindungan keanekaragaman hayati.

 

Perjuangan Orpha Dan Seluruh Masyarakat Adat Di Indonesia Belum Berakhir,  CBD COP 15 Hanyalah Sebuah Awal Dari Perjuangan
Perjuangan Orpha Dan Seluruh Masyarakat Adat Di Indonesia Belum Berakhir, CBD COP 15 Hanyalah Sebuah Awal Dari Perjuangan

Masyarakat adat mewakili 5% umat manusia namun mampu melindungi 80% keanekaragaman hayati di Bumi. CBD COP-15 menyepakati bahwa implementasi kesepakatan tersebut harus menghormati hak-hak masyarakat adat. Secara singkat, model konservasi masyarakat adat harus menjadi standar jika kita serius untuk melindungi keanekaragaman hayati.

 

Meskipun melindungi setidaknya 30% daratan dan lautan pada tahun 2030 telah ditetapkan, namun perjanjian dihasilkan tidak secara eksplisit mengecualikan kegiatan yang merusak di kawasan lindung. Ditambah lagi skema perusahaan seperti solusi dan penyeimbang berbasis alam yang hanya menjadi solusi palsu. Bahkan sangat memungkinkan bagi industri untuk terus mencari keuntungan dari keanekaragaman hayati dengan mengeksploitasi alam.

 

Team Redaksi

Indonesia jurnalis.com 20240701 090538

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

" Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini "