Warga Perumahan Nusa Kirana Tolak Pembangunan FPSA

IMG 20220411 WA0057
Jakarta – Warga Perumahan Nusa Kirana
Tolak Pembangunan FPSA atau Pengolahan Sampah, warga memasang Spanduk penolakan pembangunan FPSA di pintu masuk perumahan Nusa Kirana Legacy.

 

Warga Perumahan Nusa Kirana menolak Rencana Pemprov DKI Jakarta untuk membangun Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) di wilayah sekitar lingkungan Perumahan Nusa Kirana Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara mendapat penolakan dari warga Rorotan RT 002 RW 013 dan RW 012.

 

Penolakan tersebut tampak terlihat jelas dari pemasangan sebuah spanduk pengumuman yang dipasang di pintu masuk perumahan atau pemukiman warga setempat.

“Pengumuman itu bertuliskan, Kami warga Rorotan RT 002 RW 013 dan RW 012 Rorotan Kirana Legacy menolak dengan tegas rencana pembangunan fasilitas FPSA Pengolahan Sampah di wilayah kami’.

Warga Perumahan Nusa Kirana
Warga Perumahan Nusa Kirana Tolak Pembangunan FPSA

Lahan kosong milik PT Nusa Kirana ini memang dikenal sangat luas, bahkan sebagian lahan tersebut nampak pohon-pohon besar tumbuh subur, rindang dan sejuk. Banyak warga Rorotan maupun warga Kampung Sawah RW 011 Kelurahan Semper Timur, Cilincing mendatangani wilayah ini untuk sekedar melepas lelah dari kegiatan rutin sehari-hari sembari duduk-duduk dibawah pohon pinggiran danau buatan perumahan Nusa Kirana.

“Saya dan rekan kerja sering mampir ke pinggiran danau buatan ini sepulang kerja, beristirahat sekitar 30 menit, kemudian baru pulang ke rumah. Istirahat dibawah pohon tepian danau buatan ini kita senang senang saja,” tutur Hendri warga Semper Timur, Minggu (10/4/2022).

Untuk diketahui, sampah rumah tangga menjadi penyumbang limbah terbesar di DKI Jakarta. Hal itu berdasarkan laporan terbaru Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITB.
Laporan yang menggunakan metode sampling di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang menunjukkan 45,5 persen limbah merupakan sampah makanan atau sampah rumah tangga. Hasil tersebut tentu tidak mengagetkan, sebab jumlah penduduk Jakarta pada 2020 mencapai 10,6 juta. Sementara di Jabodetabek sejumlah 30 juta orang.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta (DLH) pada 2014 menunjukkan timbunan sampah Jakarta di TPST Bantar Gebang sebanyak 5.665 ton per day (tpd), kemudian naik menjadi 7.424 tpd pada 2020. Sehingga terjadi kenaikan timbunan sampah sebanyak 30 persen dalam 5 tahun. Bahkan DLH DKI Jakarta memprediksi TPST Bantar Gebang akan mengalami kelebihan muatan untuk tahun berikutnya.

Langkah Pemprov DKI Jakarta melakukan upaya strategis untuk mengurangi dan menangani persoalan sampah, salah satunya adalah membangun FPSA di dalam kota. FPSA dengan metode menggunakan teknologi pengelolaan sampah ramah lingkungan, yakni alat pemusnah sampah hydrodrive.

Pengelolaan sampah menggunakan teknologi hidrodrive ini beberapa negara maju seperti Jepang, Australia, dan Austria terus ditingkatkan. Sebab, menurut data dari Eurostat, pada 2019 tren penggunaan teknologi alat pemusnah sampah hydrodrive terus meningkat sejak tahun 1995 sampai 2019.

Tercatat dalam 25 tahun, lebih dari 1 miliar ton sampah di Eropa yang berhasil dimusnahkan dengan teknologi tersebut. Alat pemusnah sampah hydrodrive mampu mengurangi residu sampah hingga tersisa hanya 10 persen dan efisien dari segi operasional.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.