RUPST 2026 PT Central Omega Resources Tbk Ungkap Cadangan Nikel 93 Juta Ton dan Prospek Industri ke Depan
JAKARTA, Indonesia jurnalis – 22 April 2026 – PT Central Omega Resources Tbk (COR) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sekaligus Paparan Publik Tahunan di kawasan Artha Graha SCBD, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Direktur PT Central Omega Resources Tbk, Andi Jaya, didampingi Direktur Feni Silviani Budiman dan Corporate Secretary Yohanes Supriyadi, memaparkan perkembangan perusahaan, kinerja operasional, hingga strategi bisnis ke depan.
Andi Jaya menjelaskan bahwa perusahaan didirikan pada tahun 1995 dan mulai tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 1997. Pada 2008, perusahaan melakukan transformasi bisnis dari sektor pembiayaan menjadi perusahaan pertambangan.
“Sejak 2008 hingga saat ini, kami terus memperluas kegiatan usaha melalui akuisisi perusahaan tambang. Sejak 2011, kami telah berproduksi bijih nikel, dan dalam dua tahun terakhir juga memproduksi batu kapur,” ujar Andi.
Ia juga menyampaikan bahwa perusahaan sempat memproduksi Nickel Pig Iron (NPI) pada periode 2018 hingga akhir 2021.
Secara geografis, wilayah operasional COR sebagian besar berada di Pulau Sulawesi, khususnya di Sulawesi Tengah dan Kabupaten Morowali Utara, serta sebagian di Sulawesi Tenggara.
Cadangan Nikel dan Batu Kapur
Berdasarkan laporan per 31 Desember 2024, COR memiliki cadangan bijih nikel sebesar 93 juta ton, yang terdiri dari saprolit dan limonit dengan komposisi sekitar 80 persen. Sementara itu, total sumber daya nikel mencapai 183 juta ton.
“Cadangan ini baru berasal dari sekitar 30 persen wilayah konsesi kami. Artinya, masih ada lebih dari 70 persen area yang berpotensi untuk dikembangkan ke depan,” jelas Andi.
Untuk batu kapur, perusahaan mencatat total cadangan sebesar 29 juta ton, yang berasal dari beberapa wilayah izin usaha pertambangan (IUP).
Struktur Pemegang Saham
Dalam paparannya, manajemen juga menjelaskan struktur kepemilikan saham perusahaan. Mayoritas saham COR dimiliki oleh PT Jinsheng Mining sebesar 61,63 persen, diikuti GSC sebesar 2,76 persen, dan publik sebesar 35,61 persen.
Andi menegaskan bahwa PT Jinsheng Mining bukan merupakan perusahaan penanaman modal asing (PMA).
“Perlu kami sampaikan, PT Jinsheng Mining bukan PMA. Ini perusahaan nasional yang dimiliki oleh warga negara Indonesia,” tegasnya.
Kinerja Produksi dan Penjualan
Dari sisi produksi, realisasi tahun 2024 dan 2025 relatif stabil karena mengikuti batasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui pemerintah.
“Secara kapasitas kami mampu memproduksi lebih, tetapi kami tetap harus patuh terhadap kuota yang ditetapkan dalam RKAB,” jelasnya.




