Dalam sesi refleksi, peserta juga menekankan bahwa toleransi tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antarumat beragama, tetapi juga diwujudkan melalui kepemimpinan yang mampu merangkul perbedaan, memperkuat ukhuwah, dan menghadirkan solusi atas persoalan sosial. Nilai tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal dipandang sebagai landasan utama Nahdliyin Kawanua dalam menjaga harmoni.
Forum menghasilkan refleksi bahwa generasi muda Nahdliyin memiliki tanggung jawab memperkuat budaya musyawarah, memperluas dialog lintas komunitas, meningkatkan literasi, serta mengembangkan inovasi yang tetap berakar pada tradisi pesantren. Pengalaman masyarakat Sulawesi Utara yang hidup berdampingan secara damai dinilai menjadi contoh nyata praktik toleransi yang dapat terus dirawat.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar proses regenerasi kepemimpinan NU mampu melahirkan pemimpin yang menjaga khidmah kepada umat, memperkuat persatuan, serta mengembangkan organisasi yang adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur Nahdlatul Ulama.
Melalui Rembug Nahdliyin Muda, semangat toleransi dalam bingkai Nahdliyin Kawanua diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam mengawal masa depan NU dan Indonesia.




