Namun, sikapnya berubah drastis setelah meningkatnya eskalasi konflik. Pada 1 Maret, hanya sehari setelah serangan udara yang menewaskan Khamenei dan Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Pakpour, Larijani tampil di televisi pemerintah dengan pernyataan keras.
“Amerika dan rezim Zionis (Israel) telah membakar hati bangsa Iran,” tulisnya di media sosial. “Kita akan membakar hati mereka. Kita akan membuat para penjahat menyesali perbuatan mereka.”
Ia juga menambahkan, “Para prajurit pemberani dan bangsa Iran yang agung akan memberikan pelajaran yang tak terlupakan kepada para penindas internasional yang keji.”
Dalam pernyataan lainnya, Larijani menuding Presiden AS Donald Trump telah terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “perangkap Israel”.
Di tengah krisis besar yang dihadapi Iran sejak Revolusi 1979, Larijani menjadi salah satu tokoh sentral dalam respons pemerintah. Ia juga berperan dalam dewan transisi yang terdiri dari tiga orang yang memimpin Iran pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.*
(NK/red)




