Pembangunan Perdesaan: Sudahkah Mengurangi Beban Mereka?  

IMG 20260724 WA0000
Pembangunan Perdesaan: Sudahkah Mengurangi Beban Mereka?

Penulis: Prof. Dr. Nairobi (Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan FEB Unila)

 

Jakarta, Indonesia Jurnalis – Selama ini pembangunan perdesaan sering dibicarakan dengan bahasa yang terdengar indah, ada subsidi, ada bantuan, ada program populis, ada keberpihakan pada rakyat kecil. Tetapi bagi masyarakat pedesaan, persoalannya bukan sekadar apakah program itu ada, melainkan apakah hidup mereka sungguh menjadi lebih ringan. Dalam banyak kasus, jawabannya justru tidak sesederhana itu. Warga desa menghadapi beban hidup yang lebih berat karena mereka membayar mahal untuk kebutuhan yang sama, menerima layanan yang lebih rendah, dan menanggung biaya tambahan akibat ketimpangan infrastruktur serta distribusi barang dan jasa.

Masalah pertama terlihat pada energi. Secara formal, masyarakat desa memperoleh akses pada BBM subsidi dan listrik dengan tarif yang sama seperti masyarakat kota. Namun secara riil, harga yang mereka bayar sering tidak jauh berbeda dari harga non-subsidi karena lokasi yang jauh dari titik distribusi dan rantai pasok yang panjang. BBM yang seharusnya meringankan beban justru menjadi mahal ketika sudah sampai di tingkat pengecer. Dalam situasi seperti ini, subsidi tidak sepenuhnya hadir sebagai perlindungan sosial, melainkan sering tergerus oleh ongkos distribusi dan ketimpangan akses.

Hal serupa terjadi pada listrik. Tarif bisa sama, tetapi kualitas layanan tidak selalu setara. Banyak wilayah pedesaan mengalami tegangan yang lebih rendah, gangguan yang lebih sering, dan jaringan yang kurang stabil dibandingkan perkotaan. Akibatnya, masyarakat desa membayar dengan harga yang sama untuk layanan yang kualitasnya lebih rendah. Dalam logika ekonomi, ini adalah bentuk ketidakadilan yang nyata. Biaya yang dibayar sama, tetapi manfaat yang diterima berbeda. Itu berarti desa menanggung beban yang tidak tercermin dalam angka tarif resmi.

Baca Juga  Anggota DPRD DKI Kenneth Serobot Jalur Busway, Ini Kata Wakasatlantas Polres Metro Jakarta Barat

Beban berikutnya datang dari transportasi dan kondisi jalan. Jalan desa yang buruk bukan hanya persoalan fisik, tetapi persoalan ekonomi yang langsung memukul rumah tangga. Kendaraan motor dan mobil menjadi lebih cepat rusak, biaya servis meningkat, ban lebih sering diganti, dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros. Biaya ini sering tidak dihitung sebagai bagian dari kemiskinan desa, padahal bagi keluarga petani, buruh, dan pedagang kecil, pengeluaran semacam itu sangat terasa. Jalan yang buruk pada akhirnya membuat mobilitas mahal, memperlambat akses ke pasar, sekolah, layanan kesehatan, dan pusat ekonomi.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *