Launching Batik Puspawicitra ke-193 di Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta International Convention Centre
JAKARTA, Indonesia jurnalis – G.K.B.R.A.A. Paku Alam X resmi meluncurkan karya Batik Puspawicitra ke-193 dalam rangkaian acara Puspa Nuswantara 2026 yang digelar di Hall A Jakarta International Convention Centre (JICC), Senayan, Rabu (8/7/2026). Peluncuran tersebut dikemas dalam sebuah talkshow yang mengangkat nilai seni, filosofi, serta pelestarian batik sebagai warisan budaya Indonesia.
Di sela-sela kegiatan, G.K.B.R.A.A. Paku Alam X mengungkapkan rasa syukur karena dapat memperkenalkan karya terbarunya kepada masyarakat luas melalui ajang budaya bergengsi tersebut.
“Acara ini adalah talkshow sekaligus launching Batik Puspawicitra ke-193. Ini menjadi sebuah prestasi bagi saya karena bisa meluncurkan karya ini di Jakarta, tepatnya dalam acara Puspa Nuswantara. Batik yang saya ciptakan juga mencerminkan bunga-bunga yang ada di Puro Pakualaman dan motif-motif tersebut juga sering saya gunakan,” ujarnya.
Ia mengaku bukan kali pertama mengikuti pameran batik di Jakarta International Convention Centre. Menurutnya, dirinya cukup sering hadir dalam berbagai kegiatan batik nasional, seperti Adiwastra, kegiatan Yayasan Batik Indonesia, hingga berbagai pameran lainnya.
“Saya sudah lumayan sering mengikuti acara seperti ini, baik Adiwastra maupun kegiatan-kegiatan batik lainnya. Kali ini APBBI pertama kali menyelenggarakan acara ini, dan karena pengurusnya merupakan teman-teman saya, saya pun diundang untuk turut berpartisipasi,” katanya.
Mengenai target yang ingin dicapai melalui peluncuran Batik Puspawicitra ke-193, G.K.B.R.A.A. Paku Alam X berharap masyarakat semakin mengenal batik khas Puro Pakualaman.
“Saya berharap masyarakat bisa mengenal batik yang ada di Puro Pakualaman dan mengetahui bahwa saya telah menciptakan hingga 193 motif batik. Harapan saya masyarakat semakin mengenal bahwa di Puro Pakualaman juga memiliki kekayaan motif batik yang khas,” ungkapnya.
Saat ditanya mengenai harga koleksi batiknya, ia menjelaskan bahwa nilai setiap karya sangat beragam karena diproduksi melalui berbagai teknik dan melibatkan para perajin batik di Yogyakarta.
“Harga batiknya bermacam-macam karena saya tidak selalu membatik sendiri. Saya juga membina dan bekerja sama dengan para pengrajin di Yogyakarta, sehingga harganya bervariasi. Namun untuk karya ciptaan saya yang termasuk koleksi khusus atau motif-motif kuno, saya banderol cukup tinggi. Yang paling murah sekitar Rp20 juta,” jelasnya.




