Meski demikian, ia memastikan masyarakat tetap dapat memiliki batik dengan harga yang lebih terjangkau melalui produk batik cetak maupun koleksi lainnya.
“Saya memang menciptakan karya yang ada nilai eksklusifnya dan ada juga yang harganya lebih terjangkau. Karya ciptaan saya memiliki filosofi yang mendalam, sehingga saya menghargai karya tersebut sebagaimana seorang pelukis menghargai hasil karyanya,” tuturnya.
Ke depan, G.K.B.R.A.A. Paku Alam X berharap masyarakat semakin mencintai batik sekaligus memahami proses panjang di balik selembar kain batik yang dikerjakan secara telaten oleh para perajin.
“Harapan saya masyarakat semakin mengenal batik, mencintai batik, dan menghargai batik. Untuk menghasilkan selembar batik membutuhkan waktu yang panjang dan usaha yang besar dari para pengrajin. Mari kita bersama-sama menjaga batik agar para pengrajin di seluruh Indonesia tetap bisa berkarya dan mendapatkan penghidupan yang layak,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa para pengrajin yang selama ini bekerja sama dengannya berasal dari Yogyakarta.
Talkshow dan peluncuran Batik Puspawicitra ke-193 menjadi salah satu agenda utama dalam perhelatan seni budaya Puspa Nuswantara 2026. Peluncuran tersebut menjadi simbol harmonisasi antara tradisi dan inovasi dalam perkembangan batik Indonesia.
Selain peluncuran Batik Puspawicitra, rangkaian acara juga diisi dengan peluncuran dan bedah buku “Batik Tiga Negeri” karya Komarudin Kudiya dan Afif Syakur. Pengunjung juga disuguhkan pagelaran busana yang menampilkan karya mahasiswa serta para perajin batik, dilanjutkan dengan lelang karya dan Pasar Batik Rakyat yang membuka akses langsung antara pengunjung dengan para perajin serta pelaku UMKM batik dari berbagai daerah.*
(Lucky Poni)




