Ia menekankan bagaimana konsep Islam dan ideologi sosial yang digagas Tjokroaminoto bukan sekadar teks sejarah, melainkan instrumen hidup yang harus terus diaktualisasikan oleh generasi muda dalam menjawab tantangan zaman.
Sementara itu, narasumber kedua, Muhammad Senanatha yang menjabat sebagai Kepala Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan Pengurus Besar (PB) SEMMI, menyoroti kontekstualisasi gerakan. Dalam pemaparannya, ia mengajak mahasiswa untuk menakar kembali relevansi gagasan Islam dan Sosialisme serta Sosial-Demokrasi dalam merespons isu-isu sosial-ekonomi kontemporer.
“Gerakan mahasiswa hari ini, menurutnya, wajib memiliki landasan ideologis yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing oleh pragmatisme politik,” tegas Senanatha.
Jalannya dialog berlangsung interaktif dan dinamis. Kehadiran kader SEMMI se-Jakarta Raya dalam forum ini menegaskan komitmen bersama untuk menghidupkan kembali tradisi literasi, diskusi, dan dialektika pemikiran di tubuh organisasi.
Melalui konsolidasi ini, PW SEMMI Jakarta Raya berharap kader-kader mahasiswa tidak hanya cakap dalam melakukan aksi pengawalan kebijakan publik, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir ilmiah yang bersumber pada nilai-nilai luhur perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto.




