Ketua PD HIMA Persis Jakpus: Dorong HIMA Persis Jakpus Implementasikan Program 3T
JAKARTA PUSAT, Indonesia Jurnalis — Ketua Pimpinan Daerah (PD) Persatuan Islam (Persis) Jakarta Pusat, Ustadz Achmad Fadhilah, mendorong Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis) Jakarta Pusat untuk terus mengembangkan gerakan organisasi melalui implementasi program strategis 3T, yaitu Tradisi Kepemimpinan Unggul, Tradisi Keilmuan dan Keulamaan Unggul, serta Tradisi Sosial Kemasyarakatan.
Menurutnya, Hima Persis Jakarta Pusat memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan tradisi intelektual, kepemimpinan, dan pengabdian sosial yang telah tumbuh dalam lingkungan Jamiyyah Persatuan Islam, khususnya di Jakarta Pusat.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Achmad Fadhilah menegaskan bahwa sejarah Persis Jakarta Pusat menunjukkan adanya kader-kader yang mampu tumbuh menjadi tokoh dalam berbagai bidang. Hal tersebut, menurutnya, merupakan tradisi yang harus terus dirawat dan dikembangkan oleh generasi muda Hima Persis.
Pada aspek kepemimpinan, ia mencontohkan sejumlah kader dan tokoh yang memiliki keterkaitan dengan lingkungan Persis Jakarta Pusat, di antaranya Dr. Jeje Zaenudin yang berasal dari PC Persis Senen, Drs. M. Fauzi Nurwahid dari Persis Jakarta Pusat, serta Ihsan Abdul Haq dari Pemuda Persis Jakarta Pusat.
“Ini merupakan bagian dari tradisi kepemimpinan yang harus terus dilahirkan. Hima Persis harus mampu mempersiapkan kader-kader yang unggul, memiliki kapasitas kepemimpinan, dan mampu mengambil peran di tengah masyarakat,” ujarnya.
Selain tradisi kepemimpinan, Ustadz Achmad Fadhilah juga menekankan pentingnya Tradisi Keilmuan dan Keulamaan Unggul. Ia mengingatkan bahwa Jakarta Pusat memiliki sejarah panjang dalam melahirkan dan mengembangkan tradisi keilmuan Islam. Salah satu tokoh yang disebut adalah almarhum KH. Ahmad Mubin dari Karang Anyar yang menjadi bagian dari warisan keilmuan dan keulamaan yang perlu dikenang serta diteruskan oleh generasi berikutnya.
Menurutnya, kader Hima Persis tidak cukup hanya memiliki semangat berorganisasi, tetapi juga harus memiliki tradisi membaca, mengkaji, berdiskusi, menulis, dan membangun kapasitas keilmuan. Tradisi tersebut penting agar gerakan mahasiswa Persis memiliki landasan pemikiran yang kuat serta mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa.
Sementara itu, pada aspek sosial kemasyarakatan, Ustadz Achmad Fadhilah mencontohkan kiprahnya sebagai Ketua Bidang Seni dan Budaya dalam kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Jakarta Pusat. Baginya, keterlibatan kader Persis dalam berbagai ruang sosial kemasyarakatan merupakan bentuk nyata dari kebermanfaatan kader dan Jamiyyah bagi masyarakat.
“Tradisi sosial kemasyarakatan harus terus dibangun. Kader Persis jangan hanya aktif di internal organisasi, tetapi juga harus hadir dan memberikan manfaat di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap semangat 3T tersebut tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi benar-benar diteruskan dan dikembangkan oleh Hima Persis Jakarta Pusat menjadi program strategis organisasi. Tradisi tersebut harus menjadi bagian dari proses kaderisasi dan arah gerakan Hima Persis Jakarta Pusat ke depan.




