“Program makan bergizi gratis ini bukan hal baru di dunia. Sudah ada 114 negara yang menjalankannya, sementara Indonesia baru memulai sekitar satu tahun lalu, tepatnya pada Januari 2025,” ujarnya.
Menurut Aries, program ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, baik dari sisi kecerdasan maupun kesehatan.
“Kita melihat dari berbagai survei, tingkat rata-rata kecerdasan di Indonesia masih tergolong rendah, berkisar di angka 78 hingga 80. Sementara di negara-negara maju, program makan bergizi gratis sudah berjalan lebih dari 20 tahun dan memberikan dampak signifikan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tingginya angka stunting di Indonesia sebagai salah satu alasan utama pentingnya program tersebut.
“Dari sisi kesehatan, tingkat stunting di Indonesia masih tinggi. Data detailnya nanti akan disampaikan oleh kementerian terkait, namun ini menjadi perhatian serius kita bersama,” tambahnya.
Lebih lanjut, Aries menyinggung paradoks sumber daya alam Indonesia yang melimpah, namun belum sepenuhnya mampu diolah menjadi teknologi mandiri.
“Kita memiliki 82 persen sumber mineral dunia, mulai dari besi, nikel, batubara, emas, hingga bauksit. Namun sampai saat ini, kita belum mampu mengembangkan teknologi secara mandiri berbasis sumber daya tersebut. Ini menjadi tantangan besar bagi bangsa kita,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan APPMBGI National Summit 2026, diharapkan terbangun sinergi kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung keberhasilan program makan bergizi gratis sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.*
(Report lucky Poni)




