NEWS  

Dorong Pemuda Jadi Motor Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal, Fakultas Pertanian Gelar Seminar Nasional

Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Dorong Pemuda Jadi Motor Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal
Seminar Nasional Tentang Ketahanan Pangan di Universitas Sam Ratulangi Manado (Foto: Istimewa)
Dorong Pemuda Jadi Motor Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal, Fakultas Pertanian Gelar Seminar Nasional

MANADO, Indonesia Jurnalis – Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi menyelenggarakan seminar bertajuk “Generasi Muda Sulawesi Utara sebagai Penggerak Ketahanan Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal” pada Senin (20/4).

Kegiatan ini, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN), menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi, tokoh adat, dan pemuda untuk membahas masa depan ketahanan pangan di Sulawesi Utara dalam konteks nasional.

Seminar ini menghadirkan empat narasumber utama, yaitu Dekan Fakultas Pertanian Prof. Ir. Dedie Tooy, M.Si., Ph.D.; praktisi pertanian Sulawesi Utara Dr. Ir. Lyndon Pangemanan, M.E.; tokoh adat Minahasa Belarmino Lapong; serta Ketua DPW Sulawesi Utara Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Combyan Lombongbitung, S.IP.

Dalam pemaparannya, Belarmino Lapong menekankan pentingnya kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan. Ia mengangkat nilai budaya mapalus, yakni semangat gotong royong tanpa imbalan, sebagai fondasi solidaritas pangan masyarakat Minahasa.

“Ketahanan pangan adalah nyawa, dan tanah adalah ibu. Orang Minahasa tidak akan membiarkan keluarganya kelaparan,” tegasnya.

Ia juga mengaitkan nilai tersebut dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 2, yaitu Zero Hunger, yang menurutnya telah lama dipraktikkan masyarakat Minahasa jauh sebelum dicanangkan pada 2015.

Sementara itu, Prof. Ir. Dedie Tooy menyoroti bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga kualitas, keamanan, keberagaman, serta keterjangkauan pangan bagi rumah tangga, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996.

“Ketahanan pangan juga berkaitan erat dengan swasembada pangan, ketersediaan air, serta penguatan ekonomi kreatif. Upaya mencapai swasembada merupakan bagian penting dalam mendorong kemandirian bangsa, yang dapat ditempuh melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi,” ujarnya.

Baca Juga  Dentuman Rudal Guncang Haifa, AS Klaim Operasi Penyelamatan Dramatis di Tengah Memanasnya Konflik Iran-Israel

Dari sisi praktisi, Dr. Ir. Lyndon Pangemanan menekankan tiga karakter yang perlu dimiliki pemuda dalam memandang sektor pertanian, yaitu pola pikir, pola rasa, dan pola tindak.

“Pemuda harus meninggalkan anggapan bahwa petani adalah profesi kelas bawah dan pertanian itu kotor, berat, serta tidak menjanjikan. Mereka perlu membangun perspektif baru bahwa petani adalah agripreneur dan pertanian merupakan agribisnis modern berbasis teknologi,” ujarnya.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *