“Saya menekankan kata ‘pengabdian’. Saya ingin berbagi pengalaman kepada anak-anak di daerah 3T, karena saya juga berasal dari sana. Saya ingin mereka tidak pernah berhenti bermimpi,” ungkapnya.
Sementara itu, Gulmog Simbolon, lulusan University of Surrey, Inggris asal Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, yang akan bertugas di Sumedang, menilai program ini sebagai bentuk kontribusi nyata dalam pemerataan pendidikan. Ia juga meyakini kehadiran Pejuang Digital dapat meningkatkan motivasi belajar di daerah penugasan.
Menanggapi hal tersebut, Wapres mengapresiasi semangat para alumni luar negeri yang memilih kembali ke Tanah Air untuk mengabdi.
“Setiap alumni harus bangga menjadi WNI dan mengabdi di kampung halamannya,” katanya.
Wapres juga menekankan pentingnya inovasi dalam metode pembelajaran, khususnya di wilayah 3T, agar proses belajar menjadi lebih menarik dan efektif dengan dukungan teknologi.
“Jika pembelajaran terasa membosankan, kita harus menemukan metode yang lebih menarik. Semua harus bisa dibuat menyenangkan. Apalagi saat ini tersedia interaktif panel dari Bapak Presiden. Saya berharap teman-teman dapat membantu mengenalkan dan mendampingi pemanfaatannya,” tuturnya.
Program Pengabdian Alumni Pejuang Digital merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui program ini, para alumni LPDP berperan sebagai pendamping guru dalam mengoptimalkan penggunaan teknologi serta memperkuat pembelajaran berbasis digital di sekolah.
Sebanyak 150 alumni LPDP akan diterjunkan ke 150 sekolah dasar di sejumlah wilayah, yakni Sumedang, Kupang, Halmahera Utara, dan Merauke, selama tiga bulan. Program ini diharapkan mampu membangun ekosistem pembelajaran digital yang inklusif dan berkelanjutan di berbagai daerah di Indonesia.*
(Red/BiroWapres)




