Dalam kesempatan tersebut, Matius juga membagikan kisah inspiratif dari alumni program LKLB, seperti kolaborasi antara Rohmat Hidayat, guru madrasah di Jawa Tengah, dan Yonathan Djalimun, guru dari sekolah Kristen. Persahabatan mereka mendorong kunjungan antarsiswa dan mempererat hubungan lintas sekolah. Inspirasi ini kemudian menyebar hingga ke Ambon, Maluku, di mana Salomina Patty, guru dari sekolah Kristen, bekerja sama dengan kepala sekolah Muslim setempat mendeklarasikan program “Sekolah Gandong” sebagai simbol perdamaian dan rekonsiliasi.
“Inisiatif seperti ini memberikan harapan besar bagi pembangunan perdamaian, khususnya di wilayah yang pernah mengalami konflik antaragama,” ujar Matius.
Ia juga menyampaikan bahwa kisah sukses Indonesia melalui program LKLB menjadi sorotan positif dalam IRF Roundtable di tengah diskusi serius tentang kebebasan beragama di berbagai negara, seperti Ukraina, Irak, Nigeria, Pakistan, Palestina, dan Ghana.
“Forum ini menjadi wadah penting bagi para pemimpin agama, pemerintah, dan LSM untuk menyuarakan keprihatinan dan menggagas solusi kolaboratif,” terang pernyataan resmi dari IRF Roundtable.
Forum IRF turut menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti Greg Mitchell dan Nadine Maenza selaku Co-Chair IRF Roundtable, serta dua pejabat AS yakni Patrick Harvey dari Departemen Luar Negeri AS dan Nathan Wineinger dari USCIRF.
Sementara itu, Global Faith Forum menghadirkan pendirinya yaitu Pastor Bob Roberts Jr., Imam Mohamed Magid, dan Rabi David Saperstein. Sejumlah pembicara terkemuka juga hadir, termasuk dua mantan Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional: Rashad Hussain dan Sam Brownback.**
(Ilnews)
(Editor NK)




