PT Andira Agro Tbk Paparkan Kinerja 2025 dalam RUPS dan Public Expose 2026. Konsumsi domestik minyak sawit juga mengalami peningkatan, dari 17,6 juta ton menjadi 18,5 juta ton.
Jakarta, Indonesia jurnalis – PT Andira Agro Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan sekaligus Public Expose Tahun 2026 pada Kamis (2/4/2026) di kawasan Jalan D.I. Panjaitan, Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur. Dalam agenda tersebut, jajaran manajemen memaparkan kinerja perseroan sepanjang tahun buku 2025 serta strategi ke depan di tengah dinamika industri kelapa sawit global.
Direktur Utama PT Andira Agro Tbk, Kahar Anwar, menyampaikan bahwa industri kelapa sawit nasional masih menunjukkan kinerja yang positif. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor minyak sawit beserta turunannya—termasuk crude palm oil (CPO), produk olahan, oleokimia, dan biodiesel—telah menembus lebih dari 25 juta ton, atau meningkat 13,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini kembali menegaskan posisi strategis sawit sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia.
Di sisi lain, konsumsi domestik minyak sawit juga mengalami peningkatan, dari 17,6 juta ton menjadi 18,5 juta ton. Kenaikan tersebut didorong oleh tingginya permintaan dari sektor industri pangan, oleokimia, serta program energi berbasis biodiesel. Selain itu, harga minyak sawit yang relatif kompetitif dibandingkan minyak nabati lain, seperti bunga matahari dan kedelai, turut mendukung pertumbuhan konsumsi dalam negeri.
Namun demikian, Kahar Anwar mengakui bahwa industri sawit tidak terlepas dari tekanan global. Ketegangan geopolitik, seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China, serta konflik di berbagai kawasan dunia, turut memicu volatilitas harga komoditas dan berpotensi mengganggu rantai pasok ekspor.
Dari sisi internal, perseroan juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait peningkatan biaya operasional. Meski produksi Tandan Buah Segar (TBS), CPO, Palm Kernel (PK), dan cangkang (palm shell) mengalami peningkatan, margin keuntungan belum sepenuhnya pulih. Hal ini disebabkan oleh naiknya biaya bahan baku serta tingginya kebutuhan perawatan kebun dan infrastruktur.
Curah hujan ekstrem turut memperburuk kondisi operasional, terutama pada akses jalan menuju perkebunan yang menjadi sulit dilalui armada angkut TBS. Selain itu, sejumlah area perkebunan mengalami genangan air yang cukup luas. Kondisi ini memaksa perseroan mengalokasikan biaya tambahan untuk perbaikan jalan, rehabilitasi tanggul, serta perawatan intensif tanaman yang terdampak.




