“Kalau petani tahu ada impor beras satu ton saja, dampaknya ke 29 juta petani beras dan keluarganya bisa 115 juta orang. Petani bisa berhenti, lalu impor lagi. Ini yang harus dijaga ketat,” ujarnya.
Pengawasan ketat, lanjut Mentan Amran, tidak hanya difokuskan pada komoditas bawang, tetapi juga mencakup beras, gula, dan berbagai pangan pokok strategis lainnya. Ia mengaku telah menerima banyak laporan terkait penyelundupan pangan, peredaran pupuk ilegal, hingga mesin pertanian tanpa izin.
“Ini semua akan kita bongkar. Coba saja satu sampai dua minggu ke depan, kita bongkar semua,” tegasnya.
Mentan Amran juga mengingatkan ancaman laten masuknya penyakit hewan dan tumbuhan akibat praktik penyelundupan, dengan menyinggung pengalaman pahit wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat melanda dan menyebabkan kerugian besar bagi peternak.
“Satu atau dua ekor ternak terjangkit bisa merusak jutaan ekor ternak. Kerugiannya bukan negara, tapi petani. Bisa ratusan triliun. Ini nyata dan pernah terjadi,” ungkapnya.
Terkait penindakan, Mentan Amran menyerahkan sepenuhnya pengusutan pihak-pihak yang terlibat kepada aparat penegak hukum. Namun, ia memastikan Kementerian Pertanian akan terus berada di garda terdepan dalam menjaga kedaulatan dan keamanan pangan nasional.
“Ini bukan soal hari ini, tapi dampaknya ke depan. Dan saya tidak akan berhenti sampai praktik-praktik seperti ini benar-benar dihentikan,” pungkasnya.**
(Editor NK)




