Dalam kesempatan itu, Presiden turut mengungkapkan bahwa gagasan pembangunan Museum Marsinah berasal dari aspirasi kalangan pekerja dan serikat buruh yang mengusulkan Marsinah sebagai pahlawan nasional. Para pimpinan serikat pekerja disebut sepakat bahwa Marsinah layak mendapatkan penghormatan negara atas perjuangannya bagi hak-hak buruh.
Usai peresmian, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menjelaskan bahwa Museum Marsinah akan difungsikan sebagai ruang edukasi dan dokumentasi sejarah perjuangan ketenagakerjaan di Indonesia.
Menurutnya, museum tersebut menyimpan berbagai arsip penting terkait perjuangan buruh, mulai dari penetapan upah minimum, hak cuti hamil, hingga hak berserikat. Museum itu juga diharapkan menjadi pusat studi hukum ketenagakerjaan bagi generasi pekerja masa kini dan mendatang.
Yassierli menambahkan, keberadaan museum diharapkan dapat meningkatkan kesadaran semua pihak, termasuk penegak hukum dan dunia usaha, mengenai pentingnya perlindungan hak asasi pekerja agar tragedi kekerasan terhadap buruh tidak kembali terjadi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat negara, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Agus Subiyanto, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, serta Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor.
Selain itu, acara juga dihadiri perwakilan Konfederasi dan Federasi Serikat Pekerja, International Labour Organization (ILO), ATUC, dan ITUC.*
(Redaksi)




