“Kementerian Agama saat ini sedang melaksanakan Program Indonesia Berqiblat. Ini menjadi tugas sekaligus tantangan bagi kami. Insya Allah pada tanggal 15–16 Juli 2026 kami bersama tim dan rekan-rekan yang selama ini konsen dalam pelurusan arah kiblat akan ikut menyukseskan program tersebut,” jelasnya.
Ia berharap program tersebut mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya akurasi arah kiblat berdasarkan kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara akademik maupun syariat.
Sebagai Guru Besar, Prof. Achmad Mulyadi menegaskan komitmennya untuk terus mengabdikan ilmu pengetahuan demi kepentingan umat, bangsa, dan negara. Penguatan riset, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta pembinaan generasi muda di bidang Ilmu Falak akan menjadi bagian dari kontribusinya di masa mendatang.
Ia juga menilai kepercayaan yang diberikan kepadanya merupakan amanah yang harus dijaga melalui karya ilmiah, inovasi, dan dedikasi dalam pengembangan pendidikan tinggi keagamaan.
“Saya berharap dapat terus mengabdikan keilmuan agama secara umum sesuai arahan dan harapan Menteri Agama. Semoga keberadaan Guru Besar dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan dunia pendidikan Islam,” ungkapnya.
Dalam penetapan Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode III Tahun 2025, Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag. tercatat sebagai satu-satunya akademisi asal Madura yang memperoleh kehormatan tersebut. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi UIN Madura sekaligus masyarakat Madura karena menambah daftar profesor yang berkontribusi dalam pengembangan pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
Dengan gelar Guru Besar yang kini disandangnya, Prof. Achmad Mulyadi berharap dapat terus memperluas kontribusi akademik melalui penelitian, publikasi ilmiah, pembinaan sumber daya manusia, serta penguatan kajian Ilmu Falak yang aplikatif bagi kebutuhan umat. Ia optimistis sinergi antara perguruan tinggi, Kementerian Agama, dan para pakar Ilmu Falak di seluruh Indonesia akan mampu menyukseskan berbagai program strategis nasional, termasuk Program Indonesia Berqiblat, guna meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan bagi masyarakat.*
(Lucky Poni)




