Investor Asing Masuk, Harga Telur Ambruk: Peternak Rakyat Khawatir Tergusur dari Negeri Sendiri
JAKARTA, Indonesiajurnalis.com – Gelombang investasi besar di sektor peternakan unggas nasional memicu kegelisahan peternak rakyat. Di tengah harga telur yang terus merosot, peternak kecil kini menghadapi ancaman baru: masuknya investor raksasa, termasuk dari China, yang dinilai berpotensi mempersempit ruang usaha peternakan mandiri.
Keresahan itu mengemuka dalam forum AGRIMAT yang digelar Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) di NICE PIK 2, Jakarta, Jumat (8/5). Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi peternak rakyat untuk membahas persoalan transparansi data produksi, distribusi DOC (day old chick/bibit ayam), hingga arah kebijakan pemerintah terhadap investasi di sektor peternakan.
Ketua Umum Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) Alvino Antonio menegaskan bahwa acara tersebut sengaja menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah agar persoalan peternak bisa dibahas secara terbuka dan menghasilkan langkah konkret.
“Kenapa kami sengaja mengundang Pak Samsul Widodo Dirjen PPDT, supaya diskusinya menarik. Kalau nggak dibenturkan begitu, nggak asik. Kenapa KPUN menginisiasi acara hari ini? Karena harapan kami ke depannya ada solusi nyata,” ujar Alvino saat sesi tanya jawab dengan peserta diskusi
Ia mengatakan, peternak rakyat tidak menolak investasi maupun modernisasi industri peternakan. Namun, pemerintah diminta tidak membiarkan investor besar justru menjadi pesaing yang mematikan usaha rakyat.
“Kami itu tidak menolak investor siapapun. Justru kalau memang belum perlu, ya kami dulu dilibatkan. Kalau memang harus mendatangkan investor, ya bagaimana caranya bisa berkolaborasi dengan kami yang sudah ada, jadi jangan menciptakan kompetitor,” tegasnya.
Alvino juga meminta dukungan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa agar forum tersebut tidak berhenti sebatas diskusi.
“Jangan sampai program pemerintah itu berkelanjutan hanya di tengah jalan atau menguap. Kami berharap minggu depan bisa dipanggil Kementerian Dalam Negeri untuk merumuskan langkah konkret,” katanya.
Menurut Alvino, kepercayaan peternak terhadap pemerintah mulai menurun karena berbagai persoalan yang dinilai tak kunjung diselesaikan.
“Hari ini kami bersatu karena ingin ada hasil nyata. Terus terang, kepercayaan kami kepada pemerintah juga menurun karena sering di-PHP terus,” ujarnya.
Transparansi Data Dinilai Jadi Kunci
Dalam sesi diskusi, Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi Yuni Astuti, menyoroti pentingnya keterbukaan data populasi ayam petelur dan distribusi DOC sebagai dasar membaca kondisi pasar secara akurat.




