Menjadikan Lampung Terbaik dalam SE2026 dengan Data yang Valid

Screenshot 20260809 183146 1
Menjadikan Lampung Terbaik dalam SE2026 dengan Data yang Valid

 

Penulis Prof. Dr. Nairobi ( Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan FEB Unila)

 

Jakarta, Indonesia Jurnalis – Sensus Ekonomi 2026 akan menentukan mutu pembacaan kita terhadap keadaan ekonomi daerah. Lampung membutuhkan data yang benar agar pemerintah daerah, pelaku usaha, kampus, dan masyarakat dapat melihat struktur ekonomi secara lebih utuh. Daerah ini tidak hanya ditopang oleh perusahaan formal, tetapi juga oleh warung, pedagang pasar, usaha keluarga, jasa kecil, kegiatan produksi rumah tangga, dan aktivitas usaha digital yang sering kali tidak tampak dalam catatan administrasi biasa.

Karena itu, keberhasilan SE2026 tidak cukup diukur dari banyaknya formulir yang terkumpul. Ukuran yang lebih penting adalah mutu informasi yang masuk ke dalam sistem. Data yang tidak lengkap, jawaban yang tidak jujur, atau unit usaha yang tidak tercatat akan menghasilkan gambaran ekonomi yang timpang. Jika potret dasarnya keliru, maka arah kebijakan yang lahir dari data itu juga berisiko meleset dari kebutuhan riil masyarakat.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa capaian pendataan SE2026 di Lampung telah menyentuh 91,60 persen. Pada saat yang sama, penyelesaian lapangan ditargetkan pada 17 Agustus 2026. Capaian tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa kerja pencacahan telah berlangsung dengan intensif. Namun, fase akhir sensus justru merupakan tahap yang paling rawan. Pada tahap inilah kualitas komunikasi, ketelitian pencacah, dan keterbukaan responden sangat menentukan hasil akhir. Target 100 persen pada 17 Agustus juga sejalan dengan dorongan BPS Lampung untuk mempercepat cakupan pendataan sebelum masa pencatatan berakhir pada akhir Agustus.

Dalam konteks itu, pencacah memegang peran yang jauh lebih besar daripada sekadar pengisi kuesioner. Di mata masyarakat, pencacah adalah wajah pertama negara yang hadir untuk meminta informasi ekonomi rumah tangga dan usaha. Kesan yang muncul dalam beberapa menit pertama sering menentukan apakah responden akan terbuka atau justru menutup diri. Karena itu, pencacah perlu datang dengan identitas yang jelas, sikap yang sopan, dan kemampuan menjelaskan maksud pendataan secara singkat tetapi meyakinkan.

Baca Juga  Kevin Wu: Pergub Lembaga Adat Budaya Betawi Jadi Kado Istimewa Milad Perak FBR Menuju 500 Tahun Jakarta

Hal yang paling sering membuat responden ragu adalah kekhawatiran mengenai pajak, legalitas usaha, dan kerahasiaan informasi. Di titik ini, pencacah tidak cukup hanya mengandalkan prosedur. Pencacah perlu membangun rasa aman. Penjelasan yang terlalu teknis biasanya tidak efektif. Yang dibutuhkan responden adalah jawaban sederhana: siapa yang datang, untuk apa data diminta, dan apakah jawaban mereka akan merugikan usaha mereka di kemudian hari. Jika tiga pertanyaan itu terjawab dengan baik, kemungkinan besar resistensi akan menurun.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *