Pencacah juga perlu memahami bahwa penolakan tidak selalu berarti permusuhan. Ada responden yang menolak karena sedang sibuk. Ada yang menolak karena pernah mendengar kabar yang keliru. Ada pula yang menolak karena tidak nyaman menjawab pertanyaan di hadapan orang lain. Oleh sebab itu, strategi lapangan tidak boleh seragam. Pada sebagian kasus, pencacah cukup menjadwal ulang kunjungan. Pada kasus lain, pencacah perlu memberi ruang bagi responden untuk memverifikasi identitas petugas terlebih dahulu. Pendekatan yang lentur seperti ini justru akan meningkatkan peluang memperoleh data yang lebih akurat.
Di sisi lain, responden memegang posisi yang sangat menentukan. Tidak ada sistem statistik yang dapat menghasilkan data bermutu jika sumber informasinya tidak bersedia menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Respondenlah yang mengetahui apakah usahanya aktif, menurun, atau berkembang. Responden pula yang memahami jumlah tenaga kerja, pola usaha, serta kegiatan ekonomi yang mungkin berlangsung dari rumah atau melalui platform digital. Karena itu, kesediaan responden untuk menjawab secara jujur sebenarnya merupakan sumbangan langsung bagi kualitas kebijakan daerah.
Kesadaran ini penting untuk terus dibangun. Banyak pelaku usaha kecil sering merasa bahwa skala usahanya terlalu kecil untuk diperhitungkan. Padahal, dalam ekonomi daerah seperti Lampung, justru kumpulan usaha kecil, usaha keluarga, dan usaha informal membentuk denyut utama kegiatan ekonomi sehari-hari. Bila unit-unit semacam ini tidak masuk ke dalam sensus, maka peta ekonomi yang dihasilkan menjadi bias ke sektor yang lebih formal. Konsekuensinya sangat serius: kebijakan bisa terlihat rapi di atas kertas, tetapi tidak menyentuh pelaku ekonomi yang sesungguhnya paling banyak bergerak di lapangan.
Karena itu, responden perlu melihat pengisian sensus sebagai kepentingan bersama. Menerima petugas resmi, menyediakan waktu untuk menjawab, dan menyampaikan informasi sesuai keadaan nyata adalah bentuk partisipasi yang sangat penting. Jika kanal pengisian mandiri tersedia, maka pengisian itu sebaiknya segera dilakukan tanpa menunggu batas akhir. Penundaan hanya menambah risiko data terlambat masuk atau diisi dalam keadaan terburu-buru, yang pada akhirnya menurunkan kualitas jawaban.
Keberhasilan SE2026 juga membutuhkan modal sosial. Di sinilah tokoh masyarakat dapat menjalankan fungsi yang sangat strategis. Tokoh agama, pimpinan komunitas, pengurus pasar, akademisi, ketua RT, dan pemimpin lokal lainnya dapat menjadi penengah antara petugas sensus dan warga. Peran mereka bukan mengambil alih proses wawancara, melainkan menegaskan bahwa kegiatan pendataan ini resmi, aman, dan penting untuk masa depan ekonomi daerah.
Fungsi kepercayaan ini menjadi semakin penting karena fase akhir sensus biasanya diiringi oleh meningkatnya kabar simpang siur. Hoaks tentang pajak, bansos, atau pemeriksaan legalitas usaha dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi resmi. Karena itu, komunikasi publik harus singkat, seragam, dan mudah dipahami. Pesan yang perlu terus diulang ialah bahwa petugas resmi dapat diverifikasi, jawaban responden dijaga kerahasiaannya, dan informasi yang dikumpulkan dipakai untuk kepentingan statistik, bukan untuk menjerat pelaku usaha.
Pada akhirnya, peluang Lampung untuk menjadi salah satu daerah terbaik dalam SE2026 tetap terbuka lebar. Syaratnya jelas. Pencacah harus bekerja dengan sabar, teliti, dan komunikatif. Responden harus memberi jawaban dengan jujur, lengkap, dan tepat waktu. Tokoh masyarakat harus membantu membangun rasa percaya tanpa mencampuri isi jawaban. Bila ketiga unsur ini bergerak bersama, Lampung tidak hanya akan mencatat capaian kuantitatif yang baik, tetapi juga menghasilkan data ekonomi yang lebih valid, lebih representatif, dan lebih berguna bagi pembangunan daerah yang adil serta tepat sasaran.




