NEWS  

Deklarasi YPPI di Jakarta, Alfred Pabika: Masyarakat Adat Harus Jadi Subjek Pembangunan

Deklarasi YPPI di Jakarta, Alfred Pabika: Masyarakat Adat Harus Jadi Subjek Pembangunan
Deklarasi Yayasan Pemuda untuk Perdamaian Indonesia (Indonesian Youth for Peace Foundation/YPPI) ,Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jalan MH Thamrin No. 1, Menteng, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Deklarasi YPPI di Jakarta, Alfred Pabika: Masyarakat Adat Harus Jadi Subjek Pembangunan

JAKARTA, Indonesia Jurnalis – Yayasan Pemuda untuk Perdamaian Indonesia (Indonesian Youth for Peace Foundation/YPPI) resmi dideklarasikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0018361. AH.01.04 Tahun 2026, Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jalan MH Thamrin No. 1, Menteng, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Selain deklarasi, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan peluncuran buku ” Papua The Heart of Indonesia-Pacific Food Resilience serta bedah buku dengan tema “Papua dan Kedaulatan Pangan Kawasan Pasifik: Antara Kearifan Lokal, Inovasi, dan Pembangunan Berkelanjutan.”

Kegiatan dihadiri sejumlah pejabat yaitu Ferdinandus Kainakaimu, selaku Sekda Provinsi Papua Selatan, Pdt. Albert Yoku, Bapak Steve Mara, Bapak Fajri, mahasiswa asal Papua, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), tokoh masyarakat, serta para pemuda. Panitia deklarasi dan bedah buku di antaranya Robertus Dongoro dan Muh. Ubaidillah Daga selaku Ketua Pelaksana.

Ketua Umum YPPI, Alfred Pabika, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan mendukung terbentuknya Yayasan Pemuda untuk Perdamaian Indonesia.

“Yang pertama, yang kami hormati bapak Ferdinandus Kainakaimu, selaku Sekda Provinsi Papua Selatan. Terima kasih Bapak sudah jauh-jauh datang ke Jakarta untuk menghadiri acara kami,” ujar Alfred.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pendeta Berjoko selaku anggota Badan Pengarah Percepatan Pembangunan atau BP3KP yang telah hadir meskipun undangan disampaikan dalam waktu yang sangat singkat.

“Saya sangat luar biasa. Yang kami hormati abang kita, pembina kita, Kekasih Marah, terima kasih karena sudah mendampingi kami dalam proses bagaimana kita membawa YPPI ini untuk sampai di hari kita melakukan deklarasi hari ini,” katanya.

Alfred juga mengapresiasi kehadiran kawan-kawan Cipayung, organisasi kepemudaan, BEM, serta seluruh tamu undangan yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, YPPI dibentuk dengan semangat untuk mendorong keterlibatan aktif generasi muda, khususnya pemuda dari Indonesia Timur, dalam pembangunan nasional.

Baca Juga  FPHLI Sultra Desak KLH Usut Dugaan Pencemaran PT IPIP: PSN Tak Boleh Jadi Cek Kosong

“Bahwa seperti yang sudah disampaikan oleh panitia penyelenggara, kami punya semangat yang sama untuk membawa anak-anak muda, terutama kami kawan-kawan di Indonesia Timur, untuk terlibat aktif dalam mendorong pembangunan, dalam mendorong ketahanan pangan dan energi,” ujar Alfred.

Ia menegaskan, keberadaan YPPI tidak hanya dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan.

“Yayasan YPPI ini dibuat tidak hanya untuk mendukung program pemerintah, tetapi juga mengontrol dan mengawasi,” tegasnya.

Alfred mengatakan, keterlibatan masyarakat adat dalam pembangunan nasional menjadi salah satu perhatian utama YPPI. Menurutnya, masyarakat adat tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai objek pembangunan, tetapi harus dilibatkan sebagai subjek yang memiliki hak atas wilayah dan sumber daya di daerahnya.

“Kita tahu bersama bahwasanya selama ini pidato-pidato, kemudian soal Pasal 33, itu hanya menjadi seremonial. Kita tahu bersama bahwasanya bumi, air, udara dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kepentingan rakyat. Tetapi pada kenyataannya, kawan-kawan di bawah selama ini, rakyat ataupun masyarakat adat yang menjadi subjek, tidak dimanfaatkan dan tidak dilibatkan dalam proyek pembangunan nasional,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, kata Alfred, YPPI hadir untuk menjadi salah satu jembatan dalam menyampaikan aspirasi masyarakat adat yang selama ini dinilai belum mendapatkan pengakuan secara optimal.

“Sehingga kenapa kemudian kami membuat Yayasan Pemuda untuk Perdamaian ini, tujuannya menyambungkan aspirasi masyarakat adat yang selama ini hak mereka tidak diakui,” katanya.

Ia menegaskan bahwa proses pembangunan nasional harus menempatkan masyarakat adat sebagai bagian penting dari pembangunan.

“Dengan semangat itulah kemudian kami membentuk nasional dalam upaya-upaya pembangunan negara ini harus memperhatikan masyarakat adat, dijadikan sebagai subjek, bukan lagi objek,” ujarnya.

Menurut Alfred, masyarakat adat merupakan masyarakat yang memiliki hak atas wilayahnya sehingga perlu dilibatkan secara langsung dalam berbagai proses pembangunan nasional, termasuk dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan dan ketahanan energi.

“Kita di Indonesia Timur mendapatkan suatu keistimewaan, tapi cita-cita bahwa negeri yang gemah ripah loh jinawi itu belum benar-benar tercapai,” katanya.

Baca Juga  Prof. Gono Semiadi: Pemulihan Habitat Harus Kembalikan Keanekaragaman Hayati Sedekat Mungkin dengan Kondisi Awal

Ia menilai salah satu persoalannya adalah pemanfaatan sumber daya alam di kawasan Indonesia Timur yang menurutnya masih belum sepenuhnya memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

“Kenapa? Karena eksploitasi sumber daya alam di Indonesia Timur, khususnya, hanya dimanfaatkan oleh segelintir orang,” ungkap Alfred.

Karena itu, YPPI, lanjutnya, ingin menjadi wadah yang turut menyambungkan aspirasi masyarakat kecil sekaligus mendorong terwujudnya ketahanan pangan dan energi dengan melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik hak wilayah.

“Sehingga YPPI hadir untuk bagaimana menyambungkan aspirasi daripada masyarakat-masyarakat kecil, sehingga cita-cita kita untuk ketahanan pangan, ketahanan energi itu tentu harus melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik hak wilayah,” tegasnya.

Alfred juga mengajak organisasi kepemudaan, khususnya kelompok Cipayung dan berbagai elemen mahasiswa, untuk bersama-sama terlibat aktif dalam mengawal pembangunan nasional.

“Kami mengajak kawan-kawan Cipayung agar mari kita terlibat aktif dalam proyek pembangunan nasional, tetapi kita juga memperhatikan apa yang menjadi hak daripada masyarakat adat, supaya cita-cita mencapai Indonesia Emas itu bisa tercapai,” pungkasnya.

Deklarasi YPPI di Jakarta, Alfred Pabika: Masyarakat Adat Harus Jadi Subjek Pembangunan
(Kanan) Sekda Papua Selatan Ferdinandus Kainakaimu,

Sementara itu, usai acara Sekda Papua Selatan Ferdinandus yang mewakili gubernur meyampaikan bahwa acara tersebut sangat menarik dan memberikan masukan yang terbaik bagaimana pemerintah bisa atau mampu untuk berkolaborasi membangun sinergitas dan juga orkestra yang baik antara pemerintah ada dan juga pemuda-pemudi Papua.

Banyak pemikiran-pemikiran yang selama ini keliru tentang apapun, ternyata sumber daya manusia tanah Papua juga mampu atau memberikan kontribusi besar untuk bangsa dan negara.  Oleh karena itu kami sekali lagi mengucapkan banyak terima kasih untuk kegiatan atau acara hari ini semoga bisa membawa manfaat sebesar-besarnya terutama bagi Papua Indonesia.*

Redaksi
Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *