NEWS  

PHDI Bertemu Menag, Dorong Mahasabha XIII Menjadi Momentum Kebangkitan Umat dan Kerukunan Indonesia

PHDI Bertemu Menag, Dorong Mahasabha XIII Menjadi Momentum Kebangkitan Umat dan Kerukunan Indonesia
PHDI Sampaikan Persiapan Mahasabha XIII, Berharap Bapak Presiden Prabowo Hadir Bersama Menteri Agama [Foto: Istimewa]
PHDI Bertemu Menag, Dorong Mahasabha XIII Menjadi Momentum Kebangkitan Umat dan Kerukunan Umat Beragama

JAKARTA, Indonesia JurnalisPanitia Mahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Tahun 2026 melakukan audiensi dengan Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk menyampaikan perkembangan persiapan Mahasabha XIII PHDI, sekaligus membangun sinergi antara PHDI dan Pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan.

Audiensi dihadiri Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, S.IP, Ketua Panitia Mahasabha XIII PHDI Letjen TNI I Nyoman Cantiasa,SE, M.Tr(Han), pengurus PHDI lainnya serta unsur Panitia Mahasabha XIII PHDI yang didampingi oleh Pengurus ICRP, Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar serta Direktur Urusan Agama Ditjen Bimas Hindu beserta staf.

Mahasabha XIII PHDI direncanakan berlangsung pada 8–11 Oktober 2026 di Jakarta, dan akan dihadiri sekitar 700 peserta yang terdiri dari pengurus PHDI dari berbagai daerah, cendekiawan, tokoh agama, dan unsur umat Hindu lainnya. Forum lima tahunan tersebut menjadi ruang konsolidasi umat Hindu sekaligus membahas berbagai agenda strategis kehidupan keagamaan dan kontribusi umat Hindu bagi bangsa.

Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya menyampaikan apresiasi atas sambutan dan penerimaan Menteri Agama terhadap jajaran PHDI beserta Panitia Mahasabha XIII PHDI.

Dalam audiensi tersebut, PHDI menyampaikan harapan agar Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Agama Nasaruddin Umar dapat hadir dalam rangkaian Mahasabha XIII.

“Kami tentu akan senang jika Pak Presiden dan Pak Menteri hadir pada kegiatan ini. Tentu umat juga akan menyambut baik dan sangat gembira,” ujar Wisnu Bawa Tenaya.

Harapan tersebut mendapat sambutan positif dari Menteri Agama. Menurut Nasaruddin Umar, kegiatan keagamaan seperti Mahasabha memiliki arti penting bukan hanya bagi umat Hindu, tetapi juga bagi kehidupan kebangsaan.

Baca Juga  Bukan Sekadar Beasiswa, Dompet Dhuafa Bergerak Bangun Jejaring SDM Indonesia

“Saya senang sekali. Saya rasa ini sangat penting karena ini upaya untuk mengangkat kebangkitan semua agama. Dan saya ingin semua agama bangkit. Tidak hanya salah satunya saja. Saya rasa itu akan bagus terhadap kerukunan yang berdampak bagi bangsa,” ujar Menteri Agama.

Ia menilai kebangkitan kehidupan keagamaan harus berjalan beriringan dengan penguatan kerukunan. Mahasabha PHDI diharapkan dapat memberikan sumbangan gagasan dan langkah konkret bagi kehidupan Indonesia yang majemuk.

PHDI Bertemu Menag, Dorong Mahasabha XIII Menjadi Momentum Kebangkitan Umat dan Kerukunan Indonesia

Dari Mahasabha untuk Indonesia

Bagi PHDI, Mahasabha XIII bukan semata agenda organisasi 5 tahunan. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat persatuan umat Hindu sekaligus mempertegas kontribusi umat Hindu dalam perjalanan Bangsa.

Ketua Panitia Mahasabha XIII I Nyoman Cantiasa menyampaikan harapan agar kegiatan Forum Musyawarah Tertinggi Umat Hindu dapat berlangsung dengan baik, aman dan lancar serta mendapat dukungan pemerintah dan momentum konsolidasi umat Hindu serta berbagai elemen bangsa.

Menteri Agama menyambut baik semangat tersebut. Ia melihat Mahasabha sebagai bagian dari proses membangun kehidupan beragama yang saling menghormati, sekaligus memperkuat moderasi beragama dan kerukunan umat beragama.

Dengan demikian, keberhasilan Mahasabha tidak hanya menjadi keberhasilan umat Hindu, tetapi juga menjadi bagian dari keberhasilan Indonesia dalam merawat persatuan di tengah keberagaman.

Dalam pertemuan tersebut, PHDI juga menyampaikan rencana peresmian salah satu Pasraman yang telah di revitalisasi di Pura Mustika Dharma Cijantung yang akan dikembangkan sebagai salah satu ruang pendidikan agama Hindu sekaligus ruang pembelajaran generasi muda.

Revitalisasi tersebut diharapkan membantu menjawab kebutuhan pendidikan agama Hindu, termasuk persoalan keterbatasan guru agama. Dalam audiensi disampaikan pula mengenai besarnya kebutuhan tenaga pendidik agama di tengah persoalan antrean pengangkatan PPPK.

Namun, Pasraman diharapkan tidak hanya menjadi tempat pembelajaran agama Hindu secara internal.

Baca Juga  GAPEMBI Jambi Soroti Wacana MBG Berbasis Sekolah, Ingatkan Kesiapan Infrastruktur dan Potensi Kebocoran Anggaran

PHDI memiliki gagasan agar Pasraman menjadi ruang kajian generasi muda yang mempertemukan berbagai agama dan kepercayaan di Indonesia. Anak-anak dan generasi muda diperkenalkan pada keberagaman agama, tradisi, tata ibadah, serta nilai-nilai universal yang terdapat dalam masing-masing agama.

Gagasan tersebut mendapat apresiasi kuat dari Menteri Agama. Nasaruddin Umar bahkan melihat Pasraman sebagai salah satu contoh bagaimana rumah pendidikan dan rumah keagamaan dapat berfungsi lebih luas dalam membangun kehidupan kebangsaan.

Menurutnya, rumah ibadah dan pusat pendidikan keagamaan tetap menjalankan fungsi utama sesuai ajaran masing-masing, namun pada saat yang sama dapat menjadi ruang untuk menjawab persoalan kemanusiaan dan kebangsaan bersama.

“Bukan mencampuri urusan dalam agama, tetapi semangat bertemunya, gotong royongnya, nilai-nilai universalnya dalam bersama-sama menyelesaikan tantangan yang dihadapi Indonesia,” demikian pesan yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.

Jangan Ajarkan Anak Memusuhi Perbedaan.

Salah satu pesan penting Menteri Agama dalam audiensi tersebut adalah pentingnya pendidikan agama bagi generasi muda yang tidak berhenti pada penguatan identitas keagamaan, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengenali dan menghormati perbedaan.

Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa bibit kebencian terhadap perbedaan terkadang dapat tumbuh melalui kebiasaan sehari-hari yang tidak disadari. Ia memberi contoh ketika seorang anak mendengar adzan atau melihat siaran kotbah ibadah agama lain di televisi, lalu orang dewasa meminta anak segera mengganti saluran.

Persoalannya bukan pada mengganti saluran televisi, melainkan pada kesempatan anak untuk mengenal bahwa ada orang lain yang beribadah dengan cara berbeda. Ketika perbedaan selalu diperkenalkan dengan cara “skip”, “lewati”, atau “jangan lihat”, anak kehilangan kesempatan untuk memahami perbedaan secara sehat.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *