NEWS  

PHDI Bertemu Menag, Dorong Mahasabha XIII Menjadi Momentum Kebangkitan Umat dan Kerukunan Indonesia

PHDI Bertemu Menag, Dorong Mahasabha XIII Menjadi Momentum Kebangkitan Umat dan Kerukunan Indonesia
PHDI Sampaikan Persiapan Mahasabha XIII, Berharap Bapak Presiden Prabowo Hadir Bersama Menteri Agama [Foto: Istimewa]

Akibatnya, ketidakpahaman ini dapat dimanfaatkan, dimanipulasi, ketika kelak berhadapan langsung dengan orang yang berbeda agama, perbedaan dapat lebih mudah dibaca sebagai konflik antara “benar dan salah”, bahkan “surga dan neraka”, daripada sebagai kenyataan sosial dalam kehidupan bersama. “Saya bukan sedang menyalahkan, tapi mengajak kita semua menyadari,” menjadi pesan penting yang mengemuka.

Karena itu, kajian anak muda tentang agama menjadi salah satu hal paling strategis. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk bertanya, mengenal, berdialog, dan menemukan nilai-nilai universal yang dapat mempertemukan manusia tanpa harus mencampuradukkan keyakinan masing-masing.

Dari Pasraman Menuju Pertemuan Anak Muda Lintas Iman.

Menteri Agama menyambut baik gagasan agar semangat yang dibangun melalui Pasraman dapat berkembang menjadi model pertemuan generasi muda lintas iman.

Pertemuan tersebut dapat membicarakan berbagai persoalan kebangsaan, antara lain pendidikan, jaminan anak mendapatkan pendidikan agama, kehidupan sosial, lingkungan, serta berbagai persoalan kemanusiaan lainnya.

Gagasan tersebut menegaskan bahwa mengenal agama lain bukan berarti mencampuri agama lain.

Sebaliknya, pengenalan terhadap perbedaan dapat menjadi jalan untuk membangun rasa hormat, mengurangi prasangka, dan menemukan nilai-nilai bersama sebagai warga bangsa.

Rumah Ibadah sebagai Ruang Kebaikan Bersama.

Menteri Agama juga menceritakan pengalamannya dalam membangun ruang kebersamaan masyarakat melalui kerja pemberdayaan ekonomi, UMKM. Dari pengalaman tersebut, ia melihat bahwa ruang yang awalnya digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu dapat berkembang menjadi ruang perjumpaan yang menghasilkan kerja sama, dialog karya, dialog budaya, dan kesejahteraan bersama.

Semangat serupa juga terlihat dalam pengelolaan kawasan Masjid Istiqlal. Ketika umat Kristen membutuhkan ruang pertemuan, terdapat ruang-ruang di kompleks Istiqlal yang dapat digunakan untuk kegiatan mereka.

Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa rumah ibadah memiliki fungsi utama untuk menjalankan nilai-nilai ibadah agama masing-masing, tetapi nilai universal yang lahir dari agama dapat menjadi energi untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan bersama.

Baca Juga  Prof. Gono Semiadi: Pemulihan Habitat Harus Kembalikan Keanekaragaman Hayati Sedekat Mungkin dengan Kondisi Awal

Berbeda dalam keyakinan, bertemu dalam kemanusiaan. Inilah semangat gotong royong yang perlu terus dikembangkan dalam kehidupan Indonesia.

Merawat Sejarah Baik, Memulihkan Ingatan Bangsa.

Menteri Agama juga menekankan pentingnya mengangkat kembali kisah-kisah baik tentang kerukunan yang pernah tumbuh di berbagai daerah.

Semangat pemulihan bersama dari masalah konflik Agama menjadi penting ketika bangsa Indonesia masih menghadapi persoalan penolakan rumah ibadah, konflik sosial, serta berbagai tantangan dalam kebebasan menjalankan agama dan keyakinan. Generasi muda perlu mengetahui bahwa bangsa ini memiliki banyak praktik baik kerukunan yang dapat menjadi inspirasi masa depan.

Agama, Lingkungan, dan Pesan Universal di Era AI.

Menag juga melihat perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan pesan-pesan universal agama. Salah satunya adalah nilai dalam ajaran Hindu tentang hubungan manusia dengan alam: apa yang diambil dari bumi harus dikembalikan kepada bumi, serta pentingnya merawat dan melestarikan lingkungan.

Nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi bahasa universal yang dapat dipahami dan dikerjakan bersama oleh berbagai komunitas agama dan kepercayaan. Dengan demikian, teknologi tidak hanya digunakan untuk menyebarkan informasi, tetapi juga untuk membantu generasi muda menemukan titik temu nilai-nilai kemanusiaan di antara keberagaman keyakinan.

Mahasabha XIII: Agenda Umat Hindu, Pesan untuk Indonesia.

Pertemuan PHDI dan Menteri Agama memperlihatkan bahwa persiapan Mahasabha XIII telah berkembang menjadi lebih dari sekadar persiapan sebuah agenda organisasi. Mahasabha dapat menjadi momentum konsolidasi umat Hindu sekaligus kontribusi umat Hindu bagi Indonesia.

PHDI memiliki peran penting dalam menjalankan Dharma Agama dan Dharma Negara untuk terus memperkuat kehidupan umat Hindu dan memberikan kontribusi dalam menjaga persatuan, kerukunan, pendidikan, lingkungan, dan masa depan generasi Indonesia.

Baca Juga  GAPEMBI Jambi Soroti Wacana MBG Berbasis Sekolah, Ingatkan Kesiapan Infrastruktur dan Potensi Kebocoran Anggaran

Karena itu, harapan atas kehadiran Bapak Presiden Republik Indonesia dalam Mahasabha XIII menjadi simbol penting dan perhatian negara terhadap umat Hindu.

Menteri Agama menyatakan akan mengupayakan dan menindaklanjuti harapan kehadiran Bapak Presiden pada Mahasabha XIII.

Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari pertemuan ini sederhana namun sangat penting, bahwa Umat Hindu perlu semakin kuat. Agama-agama perlu semakin hidup. Dan Indonesia membutuhkan semuanya untuk bangkit bersama. Sebab kerukunan bukan berarti menghilangkan perbedaan.

Kerukunan adalah kemampuan sebuah bangsa untuk hidup bersama di tengah perbedaan, saling mengenal tanpa saling mencampuri keyakinan, bergotong royong tanpa kehilangan identitas, serta menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang menyatukan.

Dari Mahasabha XIII, semoga lahir energi baru bagi umat Hindu. Dari Pasraman semoga tumbuh generasi yang tidak takut melihat perbedaan. Dan dari perjumpaan lintas iman, semoga semakin banyak anak Indonesia belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan bersama-sama merawat Indonesia.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *