Gelar Sharing & Diskusi Publik, PII NTB Soroti Dilema Pelajar Antara Kesadaran Budaya Lokal dan FOMO Modern
MATARAM, Indonesia Jurnalis – Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Nusa Tenggara Barat Periode 2026-2028 menggelar kegiatan Sharing & Diskusi Publik dengan tema “Peran Pelajar dalam Menjaga Kearifan Budaya Lokal di Tengah Trend Modern: Dilema Antara Kesadaran dan FOMO”, pada Minggu (27/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor DPRD Kota Mataram tersebut menghadirkan di hadiri oleh Husni Thamrin DPRD kota Mataram sekaligus Perhimpunan KB PII/Alumni PII dan tiga pemateri berkompeten di bidangnya yaitu Kanda Ahmad Nuralam selaku Kepala Museum NTB sebagai Pemateri 1, Kanda Syafril selaku Sekretaris Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) sebagai Pemateri 2, dan Kanda Yudistira selaku Ketua Umum PW KAMMI NTB sebagai pemateri 3.
Diskusi publik ini dihadiri oleh puluhan pelajar dari berbagai sekolah tingkat SMA/SMK/MA se-Kota Mataram bahkan lombok tengah serta perwakilan Organisasi Kepemudaan (OKP) se-NTB. Antusiasme peserta terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis.
Dalam Sambutannya, Anggota DPRD Mataram Sekaligus KB PII, Husni Thamrin mengatakan bahwa PII harus kembali mengembalikan identitas pelajar, yaitu penjaga peradaban agar tidak tergerus budaya luar, terlebih khusus penjaga generasi Z dari fenomena Fomo ini.
“Harus mengembalikan peran pelajar Khususnya PII sebagai penjaga peradaban lokal agar tidak tergerus budaya luar, sekaligus merespons kegelisahan generasi Z terhadap lunturnya kearifan lokal akibat modernisasi dan fenomena FOMO,” tegasnya dalam Sambutan.
Ketua Umum PW PII NTB, Ir. Ahmad Fahrezi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja PW PII NTB untuk menjawab kegelisahan generasi Z terhadap lunturnya nilai-nilai kearifan lokal akibat arus modernisasi dan fenomena Fear Of Missing Out (FOMO).
“Hari ini pelajar dihadapkan pada dua pilihan besar. Menjadi generasi yang sadar akan jati diri budayanya, atau menjadi generasi yang hanya ikut-ikutan tren modern tanpa filter. Melalui forum ini, PII NTB ingin mengembalikan peran pelajar sebagai penjaga peradaban lokal agar tidak tergerus oleh budaya luar,” ujar Ir. Ahmad Fahrezi.





