Gelar Sharing & Diskusi Publik, PII NTB Soroti Dilema Pelajar Antara Kesadaran Budaya Lokal dan FOMO Modern

Gelar Sharing & Diskusi Publik, PII NTB Soroti Dilema Pelajar Antara Kesadaran Budaya Lokal dan FOMO Modern
PII NTB Gelar Sharing dan Diskusi Publik (Foto: Istimewa)

 

Sesi Sharing dan Diskusi Publik

Sementara itu, Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menekankan bahwa NTB memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, mulai dari tenun, tradisi Bau Nyale, hingga Peresean. Ia mengajak pelajar untuk tidak hanya bangga memakai budaya luar, tetapi harus menjadi duta budaya sendiri.

“Museum bukan tempat barang mati. Museum adalah pusat kesadaran sejarah. Jika pelajar NTB tidak mengenal budayanya sendiri, siapa lagi yang akan menjaga NTB di masa depan,” tegasnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Rektor UMMAT, Kanda Syafril, menyoroti pentingnya literasi digital yang beretika. Menurutnya, modernisasi tidak harus dipertentangkan dengan kearifan lokal, melainkan harus disinergikan.

Ketua Umum PW KAMMI NTB, Kanda Yudistira, dalam perspektif gerakan mahasiswa menambahkan bahwa pelajar harus memiliki sikap kritis terhadap setiap tren yang datang. Ia menyebut FOMO telah membuat pelajar kehilangan nalar kritis dan identitas keislaman serta keindonesiaan.

Kegiatan ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu kebudayaan dan kepemudaan di NTB. PW PII NTB juga membuka ruang kolaborasi dengan seluruh OKP untuk agenda lanjutan berupa diskusi terkait pelestarian budaya lokal di sekolah-sekolah.

PW PII NTB berharap, melalui diskusi ini, lahir pelajar-pelajar yang Sinergis, Kolaboratif, dan Progresif sesuai dengan tagline kepengurusan 2026-2028, komitmen untuk melakukan pembinaan terhadap pelajar juga menjadi salah satu hal utama.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Baca Juga  Ketua PD HIMA Persis Jakpus: Dorong HIMA Persis Jakpus Implementasikan Program 3T

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *