Bahkan, ia mengungkapkan masih ada wilayah yang hingga kini belum tersentuh pembangunan.
“Saya baru tahu satu minggu lalu bahwa di kabupaten saya, ada satu kecamatan yang sampai hari ini belum disentuh pembangunan, yakni Kecamatan AmbatKwi, Papua Selatan. Lewat sungai satu hari penuh baru sampai pelabuhan, lalu masuk ke pusat distrik memakan waktu satu sampai dua hari lewat jalan setapak, akar kayu, tebing, dan batu cadas,” bebernya.
Kondisi tersebut, lanjut Marlinus, sangat menyiksa para petugas lapangan.
“Petugas melakukan perjalanan sepanjang hari, kadang pulang kuku kaki berdarah, lecet, karena harus melewati batu cadas, tebing, dan akar-akar. Betapa sulitnya,” tuturnya.
Ia menilai Rakornas menjadi ruang strategis untuk membuka mata pemerintah pusat atas realitas di lapangan.
“Justru ini kesempatan yang baik buat kami. Tadi sudah saya sampaikan di dalam acara Rakornas,” katanya.
Dengan suara lirih, Marlinus kembali menegaskan bahwa Papua merupakan daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kami butuh perhatian khusus, sangat-sangat membutuhkan perhatian pemerintah pusat. Kami ini masuk daerah 3T, Jadi lengkap sudah penderitaan,” ucapnya.
Ia mengaku sangat berharap bisa bertemu langsung dengan Presiden RI agar kondisi Papua benar-benar dipahami di tingkat tertinggi pemerintahan.
“Kami sangat ingin bertemu Presiden supaya Bapak Presiden tahu langsung. Tapi kesempatan bertemu itu agak susah. Jadi sekarang kami lewat kementerian, melalui Rakornas ini,” pungkasnya.**
(Ls)




