Asdad mengakui belum semua warga bisa terlibat aktif, karena beberapa rumah kosong ditinggal merantau atau dihuni oleh lansia yang sudah tidak produktif. Namun demikian, menurutnya, capaian 70 persen sudah merupakan angka yang luar biasa.
Selain memenuhi kebutuhan gizi keluarga, warga juga menerapkan sistem barter dengan pedagang keliling. “Misalnya ketika ada tukang sayur lewat, warga bisa menukar hasil pekarangan mereka seperti tomat atau cabai dengan tempe atau tahu. Ini membantu menekan pengeluaran uang tunai masyarakat,” paparnya.
Asdad menambahkan, program pemanfaatan pekarangan ini sudah mulai digalakkan sejak tahun 2021 sebagai upaya ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Jalatrang.
“Alhamdulillah, dari upaya yang kami mulai sejak 2021, sekarang membuahkan hasil tidak hanya untuk kebutuhan pangan keluarga tapi juga untuk memperkuat ekonomi desa,” pungkasnya.**
(Ls)




