Fenomena Film Dokumenter Pesta Babi: Krisis Identitas Negara Dalam Kacamata Psikologi Sosial

Fenomena Film Dokumenter Pesta Babi: Krisis Identitas Negara Dalam Kacamata Psikologi Sosial

Selain itu, dampak yang menimbulkan konflik Agraria sering terjadi. Dimana PSN ini adalah pemicu utama sengketa lahan. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatatkan bahwa ratusan letupan konflik agrarian terjadi. Dimana melibatkan sekitar 1 juta hektar lahan dan berdampak pada lebih dari 100 ribu keluarga.

Kriminalisasi dan kekerasan semakin tinggi, dimana data sepanjang akhir 2025 hingga april 2026 dilaporkan terjadi ratusan kasus penganiyaan dan penangkapan terhadap petani serta masyarakat adat yang sedang memperjuangkan tanah mereka. Sehingga mata pencaharian dari masyarakat Lokal akhirnya kehilangan akses untuk ruang hidup.

Dampak terhadap lingkungan pun terjadi, dimana berimbas pada rusaknya hutan lindung dan lahan gambut. Sehingga dapat memicu pelepasan emisi karbon dalam skala besar. Dampak lainnya yaitu menimbulkan pada bencana ekologis, dimana hilangnya vegetasi alami yang dapat menimbulkan resiko banjir, erosi dan pencemaran air di wilayah sekitar proyek.

Dampak nyata ini pun hingga saat ini tidak dapat dijawabkan oleh Negara. Malahan menyakiti rakyatnya dengan kata maupun janji-janji mereka. Buktinya hingga hari ini adalah bencana di Sumatera yang belum juga diselesaikan oleh Pemerintah Pusat. Terus Pemerintah fungsinya apa? Hingga hari ini Negara tidak tahu akan seperti apa. Identitas sebagai Bangsa yang besar dengan kekayaan pun hilang.

Film Pesta Babi vs Negara: Kacamata Psikologi Sosial

Hadirnya Film Pesta Babi ini dan Kondisi Negara hari ini dapat dikatakan sebagai bentuk krisis identitas social. Apabila kita menggunakan teori krisis identitas negara yang dikembangkan oleh Henri Tajfel. Dimana teori ini menjelaskan bahwa identitas seseorang dibentuk melalui keanggotaannya dalam kelompok social tertentu, termasuk identitas kebangsaan.

Ketika suatu bangsa mengalami penjajahan panjang, maka terbentuk konstruksi psikologis kolektif yang sering kali membuat masyarakat merasa lebih rendah disbanding kelompok luat yang dianggap lebih maju atau superior

Baca Juga  Pemangkasan Program Studi Berbasis Kebutuhan Industri: Ancaman Bagi Prodi Ilmu Hukum?

Ungkapan tersebut menjadi refleksi kita bersama, bahwa memang hari ini Negara sebagai penjajah bagi bangsanya sendiri. Selain itu, kalimat tersebut membuat kita bangga dengan sistem yang dibawa oleh bangsa luar.

Buktinya? Para pejabat banyak membandingkan Negara maju dengan Indonesia sendiri tanpa melihat dampak kepada masyarakatnya, padahal nyatanya itu sebagai bentuk pembenaran semata.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *