Halalbihalal MUI 1447 H Jadi Momentum Penguatan Ukhuwah dan Kepedulian Global. Umat Islam juga diajak untuk tidak bersikap pasif, melainkan aktif bergerak bersama dalam menegakkan keadilan, melawan kezaliman
JAKARTA, Indonesia jurnalis – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar kegiatan Silaturahmi Nasional Ormas Islam dan Halalbihalal Idulfitri 1447 H dengan mengusung tema “Bersatu Dalam Ukhuwah untuk Keadilan dan Perdamaian Dunia”, Acara tersebut berlangsung di Ballroom Sultan, Jakarta, Selasa (15/4/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan sejumlah negara Timur Tengah dan negara sahabat, di antaranya Arab Saudi, Yaman, Palestina, Iran, Bahrain, Turki, Qatar, Malaysia, Afghanistan, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Mesir.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan 10 Ormas Islam Pendiri Majelis Ulama Indonesia bersama seluruh ormas Islam menyampaikan Taujihat “Bersatu Dalam Ukhuwah untuk umat Islam bersatu dan bersama – sama sepakat dalam menegakkan keadilan, melawan kezaliman, serta mewujudkan perdamaian dunia.
Dalam kesempatan tersebut, MUI berharap momentum Halalbihalal ini dapat mempererat persatuan umat Islam, sekaligus mendorong kepedulian terhadap berbagai persoalan global. Umat Islam juga diajak untuk tidak bersikap pasif, melainkan aktif bergerak bersama dalam menegakkan keadilan, melawan kezaliman, serta mewujudkan perdamaian dunia.
Sejumlah tokoh nasional dan ulama turut hadir dalam acara ini, di antaranya K.H. Ma’ruf Amin, K.H. M. Anwar Iskandar (Ketua Dewan Pertimbangan MUI), K.H. Marsudi Syuhud, Buya H. Anwar Abbas, K.H. M. Cholil Nafis, H. Misbahul Ulum, Buya H. Amirsyah Tambunan (Sekretaris Jenderal MUI), H. Zainut Tauhid Sa’adi, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Panglima TNI, serta tokoh lainnya.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menekankan pentingnya memperluas makna silaturahmi, tidak hanya antar sesama manusia, tetapi juga dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
“Dengan kerendahan hati, kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari makhluk, termasuk alam semesta, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan benda-benda alam lainnya. Silaturahmi sebagai sesama makhluk ini perlu kita tingkatkan penghayatannya. Tidak mungkin kita menjadi khalifah yang sukses tanpa dukungan alam semesta yang kondusif,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa harmoni antara manusia dan alam merupakan bagian penting dalam menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi.
“Artinya, penting bagi kita untuk menjaga ekologi, keselarasan antara Khalik dan makhluk, antara manusia dan alam semesta,” lanjutnya.
Menteri Agama juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada MUI dan seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia atas kontribusinya sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini.
“Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pembangunan, hingga hari ini, ormas Islam dan para ulama selalu hadir untuk menenangkan masyarakat, memberikan arah, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Mereka bukan hanya menjadi pengingat nilai, tetapi juga penggerak solusi,” ungkapnya.
Menurutnya, kontribusi tersebut mungkin tidak selalu tercatat secara statistik, namun dampaknya sangat terasa dalam menjaga ketahanan sosial bangsa.
Ia juga menyoroti peran strategis ormas Islam yang dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat hingga ke lapisan paling bawah. Peran tersebut tidak hanya terbatas pada dakwah, tetapi juga mencakup bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga advokasi sosial.
“Berbagai kajian menunjukkan bahwa organisasi keagamaan memiliki kekuatan khas, yakni dipercaya masyarakat dan mampu menjangkau hingga akar rumput. Di Indonesia, peran ini telah lama dijalankan oleh ormas-ormas Islam, bahkan hingga tingkat global,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa ormas Islam juga berkontribusi dalam pembentukan kesadaran sosial umat, serta dalam pengembangan hukum Islam melalui ijtihad, pendidikan, dan advokasi.
“Ini menunjukkan bahwa ormas Islam bukan hanya bagian dari masyarakat, tetapi juga bagian dari arsitektur pembangunan bangsa,” pungkasnya.
Taujihat 10 Ormas Islam Pendiri Majelis Ulama Indonesia
Dalam acara tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan 10 Ormas Islam Pendiri Majelis Ulama Indonesia bersama seluruh ormas mendeklarasikan pernyataannya dengan mengutip Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Yang bunyinya, mengamanatkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pembukaan UUD 1945 juga mengamanatkan kepada negara Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Lebih lanjut MUI meyampaikan bahwa, Pasal 1 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa menekankan penyelesaian sengketa secara damai berdasarkan prinsip keadilan, sedangkan tujuan utarnanya meliputi penegakan martabat manusia serta menciptakan kondisi stabilitas dan kesejahteraan umum.
Atas dasar keyakinan dan perinsip tersebut, kami, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan 10 Ormas Islam Pendiri Majelis Ulama Indonesia bersama seluruh ormas Islam menyampaikan Taujihat “Bersatu Dalam Ukhuwah Untuk Keadilan dan Perdamaian Dunia” sebagai berikut:
1. Bahwa setiap umat manusia memiliki tanggung jawab (mas’uliyah insaniyah) dalam menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman sebagai salah satu wujud nyata pengamalan ajaran agama. Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap umat manusia untuk menolak, menghentikan peperangan karena bentuk nyata kezaliman dan kesewenang-wenangan.




