NEWS  

IKAL DKI Jakarta Gelar Seminar Nasional Hybrid: Penguatan Keamanan Siber Nasional Berbasis Artificial Intelligence

IKAL DKI Jakarta Gelar Seminar Nasional Hybrid: Penguatan Keamanan Siber Nasional Berbasis Artificial Intelligence
IKAL DKI Jakarta Gelar Seminar Nasional Hybrid: Penguatan Keamanan Siber Nasional Berbasis Artificial Intelligence, Auditorium Asix Indonesia Cerdas, Menteng, Jakarta

Pada sesi berikutnya, Krishna Rajagopal, Global Cybersecurity Expert, mengulas secara mendalam ancaman deepfake sebagai salah satu risiko paling signifikan di era AI. Ia menjelaskan bahwa deepfake mampu menciptakan konten audio dan video yang sangat realistis sehingga sulit dibedakan dari yang asli. Dampaknya tidak hanya terbatas pada penipuan digital, tetapi juga berpotensi memicu disinformasi, manipulasi opini publik, hingga merusak reputasi individu maupun institusi secara sistemik.

Memperkuat pandangan tersebut, Prof. Dr. Marsudi Wahyu Kisworo, Guru Besar Ilmu Komputer Indonesia yang saat ini berafiliasi dengan Universitas Pancasila, menekankan bahwa pendekatan keamanan saat ini harus mengalami pergeseran mendasar. Ia menyampaikan bahwa dalam menghadapi pelanggaran keamanan teknologi informasi, fokus tidak lagi cukup pada cybersecurity, tetapi harus bertransformasi menuju cyber resilience.

Menurutnya, “di tengah kompleksitas ancaman seperti deepfake dan serangan berbasis AI, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan mencegah, tetapi kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih dengan cepat dari serangan.”

Pandangan ini menegaskan bahwa ancaman siber modern bersifat dinamis dan tidak dapat sepenuhnya dieliminasi, sehingga kapasitas resilien menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan sistem dan kepercayaan publik.

Seminar yang dimoderatori oleh Dr. Bayu Prawira Hie ini berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta, baik yang hadir secara langsung maupun daring. Diskusi berkembang pada isu-isu strategis seperti kesiapan regulasi, kebutuhan talenta digital, serta pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta.

Dari keseluruhan rangkaian kegiatan, terdapat beberapa poin strategis yang dapat disimpulkan, antara lain: pentingnya peningkatan investasi keamanan siber, penguatan literasi digital masyarakat, serta percepatan adopsi teknologi berbasis AI untuk sistem pertahanan siber nasional. Selain itu, pendekatan berbasis kolaborasi dan penguatan ekosistem nasional menjadi faktor kunci dalam menghadapi ancaman global.

Baca Juga  Trump Selamat dari Insiden Penembakan di Washington, Serukan Persatuan Nasional

Melalui seminar ini, IKAL DKI Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan ketahanan nasional, khususnya di bidang keamanan siber. Kegiatan ini diharapkan menjadi katalis dalam membangun ekosistem keamanan siber yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global.

Ke depan, dengan semakin berkembangnya teknologi seperti AI dan deepfake, Indonesia dituntut tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga tangguh secara sistemik. Sinergi lintas sektor dan penguatan kapasitas nasional menjadi fondasi utama dalam menjaga kedaulatan digital di tengah dinamika ancaman global yang terus berkembang.

Menutup kegiatan, Dr. Antoni Ludfi Arifin selaku Ketua Pelaksana acara seminar saat diwawancarai, menyampaikan bahwa seminar ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Ia menegaskan bahwa penguatan keamanan siber nasional harus dilakukan secara terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis pada pengembangan kapasitas SDM serta kemandirian teknologi dalam negeri.*

(Report lucky Poni)

Redaksi
Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *