Kacang Koro untuk Tempe, Petani, dan Penghematan Devisa

Kacang Koro untuk Tempe, Petani, dan Penghematan Devisa
Prof. Dr. Nairobi (Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Drian FEB Unila)
Kacang Koro untuk Tempe, Petani, dan Penghematan Devisa
Penulis Prof. Dr. Nairobi (Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Drian FEB Unila)

Jakarta, Indonesia Jurnalis – Indonesia telah menggantungkan pasokan kedelai pada impor selama bertahun-tahun. Ketergantungan itu membuat tempe dan tahu, yang menjadi pangan harian masyarakat, ikut bergantung pada pasar global, kurs, dan distribusi luar negeri.

Kementerian Pertanian dalam Buletin Konsumsi Pangan (2025) memperkirakan kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,62 juta ton. Pada saat yang sama, volume impor kedelai diperkirakan mencapai sekitar 2,3 juta ton, sehingga pasar domestik tetap bertumpu pada pasokan dari luar negeri.

Situasi itu menunjukkan satu masalah mendasar. Indonesia mengonsumsi protein nabati dalam skala besar, tetapi Indonesia belum membangun basis bahan baku domestik yang cukup kuat untuk menopang kebutuhan tersebut.

Kementerian Pertanian dalam Analisis Kinerja Perdagangan Kedelai (2025) mencatat nilai impor kedelai Indonesia pada 2024 sekitar 1,40 miliar dollar AS. Angka itu menunjukkan bahwa devisa nasional terus keluar untuk membiayai komoditas yang sesungguhnya dapat mulai didiversifikasi dari sumber lokal.

Karena itu, Indonesia memerlukan jalan keluar yang realistis. Indonesia tidak harus langsung mengganti kedelai sepenuhnya, tetapi Indonesia dapat mulai mengembangkan kacang koro sebagai bahan baku substitusi dalam industri tempe.

Pilihan itu layak dipertimbangkan karena kacang koro memiliki keunggulan agronomis. Tanaman ini dapat tumbuh di lahan kering dan lahan marjinal, sehingga banyak daerah dapat mengembangkannya tanpa harus bersaing dengan komoditas lain di lahan terbaik.

Langkah substitusi itu juga memiliki dasar ilmiah. Penelitian IPB (2016) menunjukkan bahwa substitusi kacang koro pedang sebesar 25 persen dapat menghasilkan karakter fisik dan sensori yang mendekati tempe kedelai murni.

Baca Juga  Kelas Menengah dan Peluang Kebijakan dari Sensus Ekonomi 2026  

Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa diversifikasi bahan baku tempe bukan gagasan utopis. Temuan itu menunjukkan bahwa pangan lokal sebenarnya dapat masuk ke pasar modern jika negara menyiapkan teknologi dan kelembagaan yang tepat.

Penelitian IPB (2016) juga menunjukkan bahwa proses perendaman tertentu dapat menurunkan kandungan HCN pada koro pedang hingga 98,86 persen. Fakta itu menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada mustahil atau tidaknya koro diolah, melainkan pada belum tersedianya teknologi pengolahan yang murah, aman, sederhana, dan mudah diterapkan secara luas.

Di sinilah tantangan kebijakan mulai terlihat. Pengrajin tempe membutuhkan bahan baku yang seragam, mudah diolah, dan tersedia setiap hari, sedangkan koro belum memiliki standar pascapanen dan sistem distribusi yang semapan kedelai impor.

Tantangan lain juga datang dari struktur pasar yang telah lama terbentuk. Rantai perdagangan kedelai impor telah membangun jaringan usaha yang mapan, mulai dari importir, distributor, pergudangan, pengangkutan, hingga pemasok yang melayani pengrajin secara rutin.

Jaringan itu tentu menjalankan fungsi ekonomi yang penting. Namun, jaringan itu juga dapat melahirkan resistensi ketika pengembangan koro dianggap mengurangi volume perdagangan, margin usaha, atau posisi pasar pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan dari ketergantungan impor.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *