Tidak hanya itu, Iran juga dilaporkan mulai memberlakukan biaya tambahan atau semacam “toll fee” bagi kapal komersial tertentu yang tetap diizinkan melintas. Kebijakan ini muncul di tengah kondisi lalu lintas maritim yang mengalami penurunan signifikan akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.
Di lapangan, sejumlah kapal dari negara yang dianggap bersahabat, seperti India, masih dapat melintasi Selat Hormuz. Namun, banyak kapal tanker minyak internasional memilih menahan perjalanan atau mengalihkan rute demi menghindari potensi ancaman. Kondisi ini membuat Selat Hormuz secara de facto menjadi jalur yang sangat terbatas bagi sebagian besar pelayaran global.
Langkah Iran tersebut disebut sebagai respons langsung atas serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan terus dimanfaatkan sebagai instrumen geopolitik selama konflik berlangsung.*
(Dari berbagai sumber)




