“Yang dipelajari tadi masih basic-basic (dasar), tapi ini bisa dikembangkan lagi. Robot-robot seperti ini setiap tahun ada kompetisinya, jadi inovasinya bisa terus ditingkatkan,” ujarnya.
Selain kepada para santri, Wapres juga menitipkan pesan kepada para guru agar terus memperbarui pengetahuan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Perkembangan teknologi ini sangat cepat. Guru tidak boleh ketinggalan dari muridnya,” tambah Wapres.
Sementara itu, Ustadz Najib Muhammad Yusuf selaku pengasuh pesantren menyampaikan bahwa integrasi teknologi modern dengan nilai-nilai keislaman dapat dilakukan tanpa menghilangkan ruh pendidikan pesantren.
“Integrasi teknologi modern dengan nilai-nilai keislaman di pesantren dapat dilakukan tanpa menghilangkan ruh pendidikan pesantren. Kuncinya adalah menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat ilmu, akhlak, dan dakwah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa santri tetap mempelajari kitab kuning, namun didukung dengan pemanfaatan teknologi digital seperti kitab dalam bentuk PDF, kamus digital, serta penggunaan perangkat pembelajaran seperti smart TV dan proyektor berbasis digital.
“Alhamdulillah, respon santri terhadap pembelajaran AI sangat baik dan mereka sangat antusias mengikuti pembelajaran tersebut. Salah satu pemanfaatannya misalnya membuat video muhadatsah bahasa Arab dalam bentuk animasi 3D,” jelasnya.
Pihak pesantren juga berharap pemerintah terus mendorong pengenalan AI di berbagai kalangan karena teknologi tersebut dinilai memiliki banyak manfaat bagi pengembangan pendidikan dan dakwah di masa depan.*
(Redaksi)




