Peluncuran Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global

Peluncuran Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global
Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Tim Editor Umum terdiri dari Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum. (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. (Universitas Diponegoro), serta Prof. Dr. Jajat Burhanudin, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Senin (31/8/2026) Kementerian Kebudayaan Jakarta

Lebih dari sekadar menyoroti monumen dan istana, buku ini mengalihkan fokus analisis dari pusat kekuasaan menuju ruang-ruang produksi simbolik yang dinamis dari pelabuhan, muara, daerah aliran sungai, hingga kehidupan keseharian. Temukan aktor-aktor kunci yang selama ini terabaikan seperti nakhoda, saudagar, rohaniawan, perajin, hingga peran penting perempuan yang membentuk identitas budaya dari bawah melalui praktik hidup sehari-hari.

Melalui jilid ini akan menyusuri evolusi politik dari kerajaan awal hingga kejayaan Majapahit yang menggabungkan basis agraris dan maritim, memahami sistem hukum Kutaramanawa Dharmasastra, dan menyaksikan transisi kreatif menuju tatanan baru yang melahirkan lembaga pesantren.

Jilid III- Nusantara Dalam Jaringan Global: Timur Tengah

Editor Jilid

1. Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M.Hum. (UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta) 2. Prof. Usep Abdul Matin, M.A., M.A., Ph.D. (UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta)

Menyingkap tabir sejarah Islamisasi Nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-17 Masehi, menegaskan posisi strategis kepulauan ini sebagai simpul vital jaringan maritim global yang terhubung erat dengan peradaban Timur Tengah. Berlandaskan sintesis temuan arkeologis mutakhir di Situs Bongal hingga kajian manuskrip kuno, narasi ini membedah evolusi komunitas pedagang Muslim di bandar kosmopolitan menjadi entitas politik kesultanan yang berdaulat seiring meredupnya hegemoni Sriwijaya dan Majapahit.

Integrasi ekonomi di Samudra Hindia mendorong para elite lokal mengadopsi Islam, tidak semata sebagai transisi teologis, melainkan sebagai strategi politik canggih untuk legitimasi kekuasaan, diplomasi internasional, dan unifikasi wilayah yang melahirkan institusi negara yang kokoh dan berwawasan luas. Jilid ini secara mendalam juga menyoroti proses akulturasi kreatif yang memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal, tercermin indah dalam arsitektur masjid, seni nisan, hingga tradisi literasi beraksara Jawi dan Pegon yang memperkaya khazanah intelektual bangsa. Dari strategi kebudayaan Wali Songo di Jawa hingga jaringan ulama di Sumatera, terlukis jelas wajah Islam Nusantara yang adaptif, toleran, dan berkebudayaan tinggi dalam merespons tantangan zaman.

Baca Juga  Prof Agustino Zulys: Beasiswa Zakat Terbukti Melahirkan Guru Besar

Jilid IV- Interaksi Awal Dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi

Editor Jilid

1. Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum. (Universitas Indonesia)

2. Dr. Phil. Zacky Khairul Umam (Universitas Islam Internasional Indonesia)

Jilid ini menyingkap babak penting dalam sejarah Nusantara, yakni interaksi dinamis antara kekuatan lokal dan bangsa-bangsa Barat pada periode modern awal, abad ke-16 hingga ke-18. Didorong oleh pencarian komoditas rempah-rempah unggulan seperti cengkih, pala, dan lada, bangsa Eropa dimulai dari Portugis, kemudian disusul kongsi dagang raksasa VOC memasuki kepulauan ini. Berbekal hak oktroi yang istimewa, VOC berupaya membangun hegemoni dan monopoli perdagangan yang tak terhindarkan.

Buku ini tidak hanya merekam jejak kekuasaan dagang yang bertahan lama tersebut dan pembentukan Batavia sebagai simpul dagang Asia, tetapi juga menggarisbawahi pengaruh Islam yang kian menguat melalui jaringan intelektual dan transmisi ilmu pengetahuan di tengah arus globalisasi. Interaksi yang kompleks ini jauh dari sekadar kisah penaklukan, ia adalah narasi tentang Kompetisi dan Aliansi. Kekuatan-kekuatan besar Nusantara termasuk Aceh, Mataram, dan Gowa-Tallo melancarkan resistensi terhadap upaya monopoli VOC, yang berujung pada konflik dan peperangan terbuka. Di sisi lain, kepentingan politik dan ekonomi turut menghasilkan aliansi

yang tak terhindarkan, baik di antara kekuatan lokal maupun antara Barat dan Nusantara. Hasil dari perjumpaan dan pertarungan ini adalah lahirnya masyarakat kosmopolitan yang hibrid di kota-kota pelabuhan, membentuk budaya baru seperti Indisch, dan menjadikan Bahasa Melayu sebagai lingua franca pemersatu yang menjadi cikal bakal bahasa nasional.

Jilid V Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial Editor Jilid 1. Prof. Dr. Sarkawi B. Husain, M.Hum. (Universitas Airlangga)

2. Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A. (Universitas Gadjah Mada)

Baca Juga  Prof Agustino Zulys: Beasiswa Zakat Terbukti Melahirkan Guru Besar

Jilid ini menelusuri periode krusial abad ke-18 hingga awal abad ke-20, saat Nusantara bertransformasi dari wilayah kekuasaan kongsi dagang VOC yang kolaps menjadi sebuah entitas politik baru yang disebut Negara Kolonial.

Setelah mengambil alih kendali, Belanda segera memulai rasionalisasi dan sentralisasi administrasi, serta ekspansi teritorial yang masif untuk mewujudkan negara kolonial modern. Berbagai institusi modern mulai dari sistem hukum, birokrasi, hingga sekolah ditanamkan secara sistematis, yang berfungsi sebagai alat kontrol baru.

Di sisi ekonomi, diterapkan dua sistem eksploitatif yang mengubah wajah masyarakat: Tanam Paksa dan Ekonomi Liberal. Kedua sistem ini tidak hanya menguras sumber daya, tetapi juga menciptakan struktur sosial baru yang berbasis segregasi rasial, menempatkan penduduk pribumi di bawah lapisan sosial terendah. Pembentukan negara kolonial yang ambisius ini menuntut pengorbanan besar dari masyarakat Indonesia, baik secara material maupun spiritual.

Namun, buku ini menyoroti bahwa pembentukan negara kolonial bukanlah proses searah tanpa perlawanan. Di berbagai wilayah, muncul resistensi keras, mulai dari perlawanan bersenjata dalam skala besar seperti Perang Diponegoro dan Perang Aceh, hingga perlawanan non-militer yang elegan melalui gerakan sosial, media, dan karya sastra. Pendidikan kolonial, yang dimaksudkan untuk melayani kebutuhan birokrasi, secara tak disengaja melahirkan elit pribumi terpelajar yang menyebarkan gagasan kebangsaan di ruang publik melalui pers. Inilah yang disebut “perubahan yang tak disengaja”, di mana kebijakan kontrol kolonial justru menjadi benih bagi kesadaran nasional.

Anda akan melihat bagaimana masyarakat Indonesia menemukan agensi mereka sendiri di bawah bayang-bayang penjajahan yang terstruktur! Warisan periode penuh gejolak inilah yang kemudian meletakkan fondasi bagi Pergerakan Nasional.*

(Redaksi)

Redaksi
Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *