Pondok Pesantren Ash-Sholihah Jonggrangan Jadi Sorotan, Diduga Seorang Kiai Perkosa Santrinya hingga Hamil
SLEMAN, Indonesia Jurnalis — Santriwati berinisial FN mengaku mengalami dua kali pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang pria bernama Nurul Huda, yang dikenal dengan panggilan Gus Nurul, di Pondok Pesantren Ash-Sholihah Jonggrangan, Sleman. Menurut keterangan FN, dua peristiwa tersebut terjadi pada akhir Desember 2025 dan Januari 2026.
Menurut FN, peristiwa pertama bermula ketika dirinya diinstruksikan oleh Gus Nurul untuk segera datang ke ruangannya. Saat itu, Gus Nurul yang disebut sebagai pimpinan atau kepala pengurus Pondok Pesantren Ash-Sholihah Jonggrangan mengaku sedang sakit, tidak dapat berdiri, dan membutuhkan pertolongan segera karena khawatir akan pingsan.
Karena merasa iba dan berniat membantu, FN yang berada tidak jauh dari ruangan tersebut kemudian menghampiri Gus Nurul. Namun, menurut FN, situasi berubah ketika dirinya membuka pintu ruangan. Setelah FN masuk, pintu kemudian dikunci dan Gus Nurul disebut langsung memeluknya secara paksa.
FN mengaku berusaha melepaskan diri dan keluar dari ruangan. Akan tetapi, tangannya ditarik sehingga dirinya tidak dapat melarikan diri. Ia juga menerangkan bahwa dirinya kemudian dicium dan pakaiannya dibuka secara paksa.
Dalam keterangannya, FN mengatakan dirinya berada dalam kondisi takut dan tertekan sehingga tidak mampu memberikan perlawanan sebagaimana yang diharapkannya.
“Saya takut dan tertekan,” kata FN dalam keterangannya.
FN juga menerangkan bahwa lehernya dicekek dan mulutnya ditutup sehingga tidak dapat berteriak. Dalam kondisi tersebut, menurut pengakuannya, Gus Nurul membuka rok FN dan melakukan hubungan seksual tanpa persetujuannya.
“Saya tidak bisa berteriak karena mulut saya ditutup,” ujar FN.
Setelah kejadian tersebut, FN mengaku berlari menuju kamar mandi dalam keadaan menangis. Ia mengatakan peristiwa tersebut membuat dirinya mengalami ketakutan, kebingungan, tekanan batin, dan trauma.
Meski demikian, FN tidak langsung menceritakan kejadian tersebut kepada keluarganya. Menurut keterangannya, rasa takut, malu, kebingungan, trauma, serta kekhawatiran keluarganya akan terpukul membuat dirinya memilih untuk menyimpan peristiwa tersebut. Kisah tersebut, menurut FN, tidak berhenti pada satu kejadian.
Pada Januari 2026, FN kembali datang ke Pondok Pesantren Ash-Sholihah setelah dihubungi istri Gus Nurul untuk membantu menjaga anak-anaknya ketika sang istri berada di rumah sakit untuk melahirkan.
FN mengaku menyanggupi permintaan tersebut karena merasa lebih aman setelah mengetahui Gus Nurul berada di rumah sakit. Namun, menurut keterangannya, Gus Nurul kemudian kembali ke pondok.
Saat mengetahui keberadaan Gus Nurul, FN mengaku panik dan berusaha melarikan diri. Menurut keterangannya, Gus Nurul kemudian masuk ke kamar dan menghalanginya keluar. Pintu kamar kemudian dikunci.
FN kembali berusaha melawan dan melarikan diri. Namun, ia mengaku tidak berhasil keluar. Gus Nurul kemudian disebut mendorong FN ke atas kasur.
Dalam kondisi menangis dan berusaha memberontak, FN mengaku kembali tidak mampu menghindarkan diri. Hubungan seksual kemudian kembali terjadi tanpa persetujuannya.
“Saya berusaha melawan dan melarikan diri, tetapi saya tidak berhasil keluar,” kata FN.
Lebih lanjut, FN menyebut kejadian tersebut sebagai pemerkosaan kedua yang dialaminya. Setelah peristiwa kedua, FN mengaku tidak hanya menghadapi trauma, tetapi juga ancaman agar tidak menceritakan kejadian tersebut kepada siapa pun, termasuk keluarganya.




