Menurut keterangan FN, Gus Nurul meminta dirinya agar tidak bercerita kepada orang tua, saudara, maupun teman dekat.
FN kemudian mempertanyakan alasan dirinya tidak diperbolehkan menceritakan kejadian tersebut.
Menurut FN, Gus Nurul kemudian mengatakan bahwa keluarganya bisa “ajur” atau hancur apabila mengetahui kejadian tersebut.
“Dia bilang keluarga saya bisa ‘ajur’ kalau mengetahui kejadian itu,” ujar FN.
FN mengaku perkataan tersebut semakin membuat dirinya takut untuk membuka cerita. Menurut keterangannya, ancaman itu menjadi salah satu alasan dirinya tetap menyimpan peristiwa tersebut dan tidak segera melaporkannya kepada keluarga maupun aparat penegak hukum.
Beberapa waktu kemudian, FN menyadari bahwa dirinya terlambat menstruasi.
Dalam kondisi takut dan bingung, ia menghubungi Gus Nurul dan menyampaikan bahwa menstruasinya belum datang. FN kemudian membeli test pack sendiri dan melakukan pemeriksaan kehamilan.
Hasil Pemeriksaan Tersebut Menunjukkan Positif.
Menurut keterangan FN, setelah mengetahui dirinya hamil, ia kembali menghubungi Gus Nurul. Namun, ia mengaku mendapat sejumlah respons yang justru membuatnya semakin tertekan.
FN menerangkan bahwa Gus Nurul menyuruhnya mengonsumsi nanas dan jamu dengan tujuan mempercepat menstruasi.
“Dia menyuruh saya makan nanas dan minum jamu supaya menstruasi saya cepat datang,” kata FN.
FN juga menerangkan bahwa Gus Nurul kemudian mengatakan agar kehamilan tersebut digugurkan supaya keluarganya tidak mengetahui kejadian yang dialaminya.
Selama berbulan-bulan, FN mengaku menyimpan sendiri seluruh peristiwa tersebut.
Ia baru mampu menceritakan kejadian secara lebih terbuka setelah berada bersama keluarganya dalam keadaan yang menurutnya lebih aman dan jauh dari tekanan lingkungan pondok.
Kepada keluarga, FN kemudian menceritakan secara bertahap mengenai peristiwa pertama, peristiwa kedua, dugaan ancaman, komunikasi mengenai kehamilan, serta tekanan yang dialaminya.
Menurut FN, hubungan seksual tersebut sama sekali bukan dilakukan atas dasar suka sama suka. Ia menegaskan kepada keluarganya bahwa dirinya mengalami paksaan, ketakutan, tekanan, dan berada dalam kondisi tidak mampu melarikan diri.
“Saya tidak mau dan tidak setuju. Saya takut dan tidak bisa melarikan diri,” tegas FN.




