“Tapi pertanyaannya, apakah seedling, anak-anakannya itu, mereka mampu hidup, bertahan ketika adanya kebakaran semacam ini? Mungkin yang disebut dewasa, pohon induk, terbakar, hilang itu daun. Mungkin dia bisa regrowth. Tapi pertanyaannya kan tidak hanya bicara pohon induk. Anak-anak yang ada di bawah itu, kan sebagai generasi penerus,” katanya.
Hal tersebut menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya pemulihan ekosistem karena keberlangsungan biodiversitas tidak hanya bergantung pada pohon-pohon dewasa, tetapi juga pada regenerasi alami.
Sementara dari sisi satwa, Prof. Gono mencontohkan orangutan yang sangat bergantung pada keberadaan pohon tinggi dan kanopi sebagai jalur untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
“Kalau hewan, semuanya akan kembali seperti orangutan. Orangutan, tadi Pak Yatnes menyampaikan bahwa dia sangat tergantung pada pohon tinggi, kanopi tinggi. Untuk berpindah, itu kan perlu kanopi yang tinggi yang saling punya connectivity di antara daun,” ungkapnya.
Menurut dia, keberadaan pohon dalam jumlah banyak belum tentu menjamin habitat satwa tetap berfungsi apabila tidak terdapat konektivitas antarkanopi.
“Sekarang harus kita lihat apakah konektivitas antarbatang di percabangan di puncak sana itu ada atau tidak. Kalau tidak ada, biarkan di situ ada 100 tegakan pohon, tapi tidak ada konektivitas, berarti habitat dari pergerakannya sudah hilang,” ujarnya.
Pemadaman dan teknologi modifikasi cuaca
Dalam menghadapi kebakaran, Prof. Gono menyebut langkah paling cepat tentu adalah melakukan pemadaman. Namun, tantangan berikutnya adalah menentukan metode pemadaman yang paling efektif dalam kondisi lingkungan tertentu.
“Langkah yang tercepat ya pasti masalah pemadaman, tapi apakah bisa cepat? Nah, ini yang susah. Pemadaman yang lebih cepat itu pakai metode apa sih?” katanya.
Ia juga menyinggung teknologi pemadaman yang telah disampaikan oleh Kepala BRIN. Namun, menurutnya, penggunaan teknologi tersebut tetap harus memperhatikan kondisi lingkungan mikro yang menjadi faktor pendukung.
“Persoalannya kan tadi Pak Kepala sudah menyampaikan, benar-benar punya teknologi untuk pemadaman. Pertanyaannya, kecukupan syarat minimum lingkungan mikro apakah terpenuhi atau tidak?” ujar Prof. Gono.
Menurutnya, faktor hujan juga menjadi salah satu unsur penting dalam upaya mengendalikan kebakaran. Dalam kondisi kemarau panjang, persoalannya adalah apakah terdapat bibit-bibit awan yang cukup untuk mendukung proses tersebut.
“Perlu hujan? Oh iya, perlu pakai hujan, pakai mikro dan … Pertanyaannya, bibit-bibit awan itu dalam situasi sekarang, kemarau panjang, ada atau tidak?” katanya.
Ia menambahkan, apabila kondisi dasar alam belum tersedia, teknologi hanya dapat berfungsi sebagai upaya untuk mempercepat proses yang memang sudah memungkinkan secara alami.
“Kalau belum ada, sebetulnya bibit-bibit awan itu kan masih tergantung pada awan. Kalau kita kan hanya proses mempercepat. Kalau modal dasarnya ada, setelah alam…” pungkasnya.*
(Ls)




