Prof Nairobi: Sudah Saatnya Pelebaran Jalan , “Masyarakat menghabiskan banyak waktu di jalan. Waktu produktif dan waktu untuk keluarga tergerus hanya untuk menunggu kendaraan bergerak pelan
Bandar Lampung, Jum’at, 6 Februari 2026, Indonesia Jurnalis- Kemacetan di ruas jalan utama dari Bandar Lampung,Pesawaran menuju Pringsewu hingga Tanggamus dinilai sudah memasuki tahap mengkhawatirkan dan berdampak luas bagi aktivitas warga serta perekonomian daerah.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila), Prof. Nairobi, mendorong pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten terkait untuk segera menjadikan pelebaran jalan di koridor tersebut sebagai prioritas utama.
Dalam wawancara khusus dengan awak Media Indonesia Jurnalis, Kamis (5/2), Prof. Nairobi menjelaskan bahwa fungsi jalan Bandar Lampung, Pesawaran–Pringsewu hari ini sudah jauh melampaui peran awalnya. Selama sekitar dua dekade terakhir, jalur ini berkembang menjadi tulang punggung konektivitas empat kabupaten: Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, dan Pesisir Barat. Meski demikian, lebar jalan pada koridor ini praktis tidak banyak berubah.“Dua puluh tahun lalu jalan ini mungkin masih terasa cukup.
Sekarang situasinya berbeda. Semua pergerakan orang dan barang dari empat kabupaten itu tumpang tindih di satu koridor yang kapasitasnya terbatas,” kata Prof. Nairobi. Ia menyebut, setiap hari jalur tersebut menampung arus pekerja yang berangkat ke Bandar Lampung, mahasiswa yang kuliah di kota, pasien yang mencari layanan kesehatan rujukan, hingga distribusi hasil pertanian dan kunjungan wisata ke kawasan pantai dan pegunungan di barat Lampung.
Kondisi itu berimbas pada perjalanan harian yang semakin tidak efisien. Warga harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam demi menghindari kemacetan, tetapi justru tetap terjebak antrean panjang kendaraan. “Masyarakat menghabiskan banyak waktu di jalan. Waktu produktif dan waktu untuk keluarga tergerus hanya untuk menunggu kendaraan bergerak pelan,” ujarnya.
Tak hanya soal waktu, Prof. Nairobi menegaskan, kemacetan di koridor ini juga menimbulkan beban ekonomi yang tidak kecil. Konsumsi bahan bakar meningkat karena kendaraan sering berhenti dan berjalan, pengiriman barang bisa tertunda, dan keterlambatan pekerja berpotensi menurunkan produktivitas. “Secara sederhana, masyarakat sebenarnya sedang membayar ‘pajak kemacetan’ setiap hari. Biayanya nyata, hanya saja tidak selalu tampak di laporan resmi,” tutur Dekan FEB Unila itu.




