Dari sisi pembangunan wilayah, Prof. Nairobi menilai jalan Bandar Lampung,Pesawaran–Pringsewu–Tanggamus memiliki posisi strategis sebagai penghubung pusat ekonomi provinsi dengan daerah hinterland dan kawasan wisata. Menurut dia, jika kemacetan dibiarkan berlarut, potensi ekonomi wilayah barat Lampung sulit dioptimalkan. “Kita bicara tentang akses komoditas pertanian, perikanan, dan pariwisata. Kalau jalan ini macet dan melelahkan, wisatawan enggan datang, biaya logistik naik, ujungnya daya saing daerah turun,” jelasnya.
Dengan mempertimbangkan beban lalu lintas, pertumbuhan penduduk, dan peran koridor tersebut bagi empat kabupaten, Prof. Nairobi menilai pelebaran jalan menjadi dua jalur sudah masuk kategori kebutuhan mendesak. Ia menyebut, penambahan jalur bukan sekadar proyek fisik, melainkan investasi langsung pada efisiensi ekonomi dan kualitas hidup warga. “Dengan dua jalur yang lebih lega, waktu tempuh bisa dipersingkat, risiko kecelakaan menurun, dan arus barang lebih lancar. Manfaatnya akan dirasakan pekerja, pelajar, pelaku usaha, hingga wisatawan,” ujarnya.
Prof. Nairobi juga mengingatkan, pertumbuhan wilayah yang pesat tanpa diimbangi peningkatan kapasitas infrastruktur dapat menimbulkan ketimpangan baru. Empat kabupaten yang berkembang di sepanjang koridor tersebut, menurutnya, adalah bukti bahwa Lampung bagian barat tengah bergerak, tetapi “tulang punggung” jalannya tertinggal. “Pertumbuhan sudah berlari, infrastrukturnya masih berjalan. Itu masalah yang tidak bisa dibiarkan terlalu lama,” katanya.
Ia mendorong Pemerintah Provinsi Lampung bersama pemerintah Kabupaten Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, dan Pesisir Barat untuk duduk bersama menyusun langka konkret.*
(Report Wilkapri)




