hingga saat ini konflik agraria masih marak terjadi, terutama antara petani dan korporasi.
“Reforma agraria belum benar-benar terjadi. Konflik petani dengan korporasi masih banyak. Ini harus diselesaikan secara adil,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengkritisi kondisi kedaulatan pangan nasional yang dinilainya belum berpihak kepada rakyat. Said Iqbal menegaskan bahwa kedaulatan pangan tidak cukup hanya dibahas saat harga beras naik, melainkan harus dibarengi dengan kebijakan konkret seperti penurunan harga beras dan bahan bakar minyak (BBM).
“Kedaulatan pangan bukan hanya soal harga beras naik lalu ramai dibahas. Kita minta turunkan harga beras, turunkan harga BBM. Baru itu namanya kedaulatan,” ujarnya.
Acara tersebut turut dihadiri jajaran pengurus pusat Partai Buruh, termasuk Sekretaris Jenderal partai, serta perwakilan buruh dari berbagai daerah. Said Iqbal juga menyinggung sejumlah kasus perburuhan yang terjadi di wilayah seperti Kabupaten Bekasi, yang menurutnya menjadi contoh nyata perlunya keberpihakan negara kepada kaum buruh dan petani.
Menutup pernyataannya, Said Aqil menegaskan bahwa perjuangan Partai Buruh adalah memastikan kemenangan politik berpihak kepada rakyat, sebagaimana semangat yang terus dibangun sejak pemilu sebelumnya.**
(Ls/red)




