Tetapi berani melanjutkan:
Mengapa masalah itu terjadi? Siapa yang paling terdampak? Kebijakan apa yang sudah tersedia? Mengapa implementasinya belum optimal? Apa yang dapat diperbaiki?
Dan pada akhirnya:
Apa kontribusi kita?
Di situlah saya melihat makna KOHATI sebagai kontributor pembaharu.
Gerakan KOHATI dapat bergerak melalui sebuah siklus:
Riset → Edukasi → Pemberdayaan → Kolaborasi → Advokasi → Evaluasi.
- Riset membantu kita memahami masalah.
- Edukasi membantu menerjemahkan pengetahuan.
- Pemberdayaan memperkuat kapasitas masyarakat.
- Kolaborasi mempertemukan berbagai sumber daya.
- Advokasi membawa persoalan dan rekomendasi ke ruang kebijakan.
- Evaluasi memastikan bahwa apa yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat.
Dengan siklus tersebut, keberhasilan gerakan tidak lagi hanya diukur dari berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan, tetapi dari perubahan apa yang dihasilkan.
Bukan sekadar menghasilkan banyak kegiatan, tetapi memastikan kegiatan tersebut menjawab kebutuhan.
Bukan sekadar menghasilkan rekomendasi, tetapi ikut mengawal implementasinya.
Bukan sekadar berbicara atas nama perempuan dan remaja, tetapi menciptakan ruang agar mereka dapat berbicara untuk dirinya sendiri.
Dari Kampus ke Masyarakat
Sebagai mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Peminatan Kesehatan Reproduksi, sekaligus anggota KOHATI, saya melihat bahwa ilmu pengetahuan dan gerakan seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri.
Di kampus, saya belajar bahwa persoalan kesehatan masyarakat perlu dibaca melalui data, penelitian, determinan sosial, kebijakan, dan bukti ilmiah.
Di KOHATI, saya belajar bahwa pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang diskusi.
Ia harus menemukan jalan menuju masyarakat.
Bagi saya, menjadi kader hari ini berarti memiliki tanggung jawab untuk mempertemukan keduanya.
Ilmu harus menjadi dasar gerakan.
Gerakan harus menjadi jalan bagi ilmu untuk memberi manfaat.
Karena itu, kader KOHATI perlu didorong menjadi perempuan yang kritis sekaligus solutif; berani bersuara tetapi juga mampu mendengarkan; mampu mengkritik kebijakan tetapi juga memahami bagaimana kebijakan bekerja di lapangan.
Dalam isu kesehatan reproduksi remaja, misalnya, KOHATI dapat mengambil peran sebagai penguat literasi, penggerak pemberdayaan, penghubung masyarakat dengan layanan, penghasil kajian, serta mitra kritis pemerintah.
Bukan untuk menggantikan negara.
Tetapi untuk memastikan bahwa suara perempuan dan remaja tidak hilang dalam proses pembangunan.
60 Tahun: Saatnya Mengubah Pertanyaan
Mungkin setelah 60 tahun, pertanyaan KOHATI tidak lagi cukup:
“Apa yang telah kita lakukan?”
Kita perlu bertanya:
“Perubahan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat?”
Berapa banyak remaja yang memperoleh informasi kesehatan reproduksi yang benar? Berapa banyak yang tahu ke mana harus mencari pertolongan? Berapa banyak remaja perempuan yang merasa aman berbicara tentang tubuh dan kehidupannya? Berapa banyak kebijakan yang benar-benar menjangkau kelompok paling rentan? Dan berapa banyak kader KOHATI yang mampu membawa persoalan masyarakat ke ruang kebijakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu nyaman.
Tetapi organisasi yang ingin terus relevan membutuhkan keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman.
Sebab eksistensi organisasi tidak hanya ditentukan oleh panjangnya usia, tetapi oleh kemampuannya menjawab kebutuhan zaman.
Enam puluh tahun adalah perjalanan panjang. Tetapi panjangnya perjalanan tidak boleh membuat kita berhenti bergerak.
Justru semakin panjang usia sebuah organisasi, semakin besar tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa warisan yang diterima tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Menjaga Estafet
Enam puluh tahun KOHATI adalah warisan dari generasi sebelumnya. Tetapi warisan bukan sesuatu yang hanya disimpan. Warisan harus diteruskan.
Generasi KOHATI hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Karena itu, cara menjawabnya juga harus berkembang.
Jika dahulu perjuangan perempuan salah satunya adalah membuka ruang untuk hadir, bersuara, dan berorganisasi, maka hari ini perjuangan tersebut juga mencakup memastikan perempuan memiliki pengetahuan, keamanan, akses, kesempatan, dan kekuatan untuk menentukan masa depannya.
Dan ketika berbicara tentang masa depan perempuan, kita tidak dapat mengabaikan remaja.
Sebab remaja hari ini adalah perempuan dan laki-laki yang kelak akan menjadi orang tua, pemimpin, akademisi, tenaga kesehatan, pengusaha, aktivis, birokrat, dan pengambil keputusan.
Mereka adalah estafet yang sedang kita persiapkan! Maka menjaga mereka bukan sekadar menjaga satu kelompok usia! Menjaga remaja adalah menjaga masa depan masyarakat!
Di usia ke-60, saya berharap KOHATI tidak hanya menjadi organisasi yang memiliki sejarah panjang.
Saya ingin KOHATI menjadi organisasi yang membaca zaman, bergerak dengan ilmu, hadir bersama masyarakat, berani mengawal kebijakan, dan mampu melahirkan pembaharu.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terpenting dari sebuah gerakan bukan hanya:
“Berapa lama kita bertahan?”
Tetapi:
“Seberapa bermakna kehadiran kita bagi zaman yang sedang kita jalani?”
Enam puluh tahun telah menjadi sejarah.
Kini, estafet itu berada di tangan kita.
Tugas kita bukan sekadar menjaganya agar tidak jatuh, tetapi membawanya lebih jauh—dengan ilmu, keberanian, dan keberpihakan pada mereka yang membutuhkan.
Bukan sekadar sebagai pewaris sejarah.
Tetapi sebagai kontributor pembaharu.
Selamat 60 tahun KOHATI.
Menjaga estafet. Membaca zaman. Menggerakkan perubahan. Menjadi kontributor pembaharu.




