Dana Asing dan NGO: Antara Idealisme Publik dan Tarik-Menarik Kepentingan Global
JAKARTA, Indonesia jurnalis – Diskusi publik yang digelar di Auditorium Universitas Trilogi,Senin, (13/4/2026) mengangkat isu krusial terkait ekonomi politik organisasi non pemerintah (NGO), khususnya aliran dana asing dan implikasinya terhadap independensi masyarakat sipil. Forum ini menegaskan bahwa NGO tidak lagi dapat diposisikan sebagai aktor netral, melainkan bagian dari arena kekuasaan global yang sarat kepentingan.
Dalam pemaparannya, Dr. Lestari Agusalim menjelaskan bahwa kemunculan NGO berakar dari kegagalan negara (government failure) dan pasar (market failure) dalam memenuhi kebutuhan publik. Keterbatasan anggaran negara, lambannya birokrasi, serta orientasi pasar yang cenderung mengejar keuntungan membuka ruang bagi NGO untuk hadir sebagai pelengkap, paparnya.
Namun, posisi NGO tidak berada di luar sistem kekuasaan. Organisasi ini justru berada di tengah tarik-menarik kepentingan antara negara, pasar, donor, dan masyarakat.
Dalam praktiknya, sumber pendanaan terutama dari luar negeri menjadi faktor penting yang turut memengaruhi arah agenda dan program organisasi, ungkap Dr. Lestari.
Dalam diskusi tersebut, Dr. Lestari memaparkan tiga perspektif utama dalam melihat dana asing. Perspektif liberal menilai pendanaan global sebagai bentuk solidaritas dan dukungan pembangunan lintas negara. Sebaliknya, perspektif realis memandangnya sebagai instrumen perluasan pengaruh negara donor. Sementara itu, perspektif kritis melihat dana asing sebagai bagian dari mekanisme dominasi dan hegemoni global, jelasnya.
Lebih jauh, ia menilai ketergantungan terhadap donor berpotensi memicu fenomena mission drift, yakni pergeseran orientasi program NGO agar selaras dengan kepentingan pemberi dana. Kondisi ini memperkuat anggapan bahwa kendali atas pendanaan turut menentukan arah narasi publik hingga memengaruhi kebijakan, tegasnya.




