Kasus Geng Motor Yang Meluap Di Kota Mataram, PW PII NTB: Bagaimana Kinerja dan Keseriusan Aparat Polres Kota Mataram 

Kasus Geng Motor Yang Meluap Di Kota Mataram, PW PII NTB: Bagaimana Kinerja dan Keseriusan Aparat Polres Kota Mataram 
Ketua Umum PW PII NTB, Ahmad Fahrezi (Foto: Istimewa)
Kasus Geng Motor Yang Meluap Di Kota Mataram, PW PII NTB: Bagaimana Kinerja dan Keseriusan Aparat Polres Kota Mataram 

JAKARTA, Indonesia Jurnalis – Maraknya aksi geng motor yang meresahkan masyarakat Kota Mataram dalam beberapa waktu terakhir telah mencapai titik yang tidak bisa ditoleransi lagi. Penganiayaan, pembegalan, konvoi dengan senjata tajam, hingga tawuran yang merenggut rasa aman masyarakat adalah cerminan gagalnya sistem pencegahan dan penegakan hukum yang komprehensif.

PW PII NTB sebagai organisasi pelajar juga turut menyoroti beberapa aspek yang perlu ditinjau dan ditindaklanjuti dengan serius.

Peran Kepolisian Dipertanyakan

Ketua Umum PW PII NTB, Ahmad Fahrezi mempertanyakan efektivitas dan keseriusan Aparat Kepolisian Resor Kota Mataram dalam menangani fenomena geng motor. Patroli yang bersifat reaktif, penindakan yang tidak berlanjut ke jaringan, dan minimnya transparansi penanganan kasus membuat masyarakat kehilangan kepercayaan.

“Polisi tidak cukup hanya hadir setelah kejadian, tapi harus hadir mencegah. Di mana fungsi intelijen dan Bhabinkamtibmas untuk deteksi dini kelompok-kelompok ini? Keamanan malam di Mataram hari ini adalah cerminan dari lemahnya peran preventif tersebut,” ujar Ahmad Fahrezi.

Soroti Kasus 3 Tahun Terakhir

Data dan aduan masyarakat yang kami himpun menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam 3 tahun terakhir (2023-2026). Polanya tidak lagi kenakalan remaja biasa:

  • Tahun 2023 didominasi tawuran antar kelompok pelajar dengan sajam.
  • Tahun 2024 bergeser menjadi aksi pembegalan dan pengeroyokan dengan modus klitih.
  • Tahun 2025-2026, polanya semakin terorganisir dan kini terbaru di kota Mataram terjadi 4 titik TKP dalam satu malam, adapun yang perlu disoroti juga yaitu adanya yang menggunakan media sosial untuk tantangan, konvoi besar di atas 20 motor, dan banyak anggotanya sudah putus sekolah dan di bawah umur namun berulah seperti pelaku kriminal dewasa. Ini bukan lagi fenomena musiman, ini adalah darurat keamanan pelajar.
Baca Juga  Lima Tahun Memimpin PHDI, Wisnu Bawa Tenaya: Kami Mengarungi Samudera dan Naik Turun Gelombang

Keluarnya Tuntutan Masyarakat

Ahmad mengatakan bahwa Masyarakat Mataram sudah muak. Tuntutan yang keluar dari orang tua, guru, dan pelajar sangat jelas.

“Pihak keluarga dan warga Mataram menilai kejadian semalam adalah bukti bahwa geng motor di Mataram sudah sangat merajalela dan tidak takut aparat,” tegasnya.

Dalam satu malam 4 kejadian, artinya mereka berkeliling kota mencari korban. Hari ini 3 pemuda yang lagi cari makan, besok bisa anak kita, keluarga kita, maka dari itu masyarakat kota Mataram mengeluarkan beberapa poin tuntutan yang harus diatensi dengan serius baik oleh kepolisian maupun pemerintah setempat:

  1. Mendesak Kapolda NTB dan Kapolresta Mataram segera nyatakan DARURAT GENG MOTOR dan bentuk Tim Gabungan Anti Geng Motor.
  2. Segera tangkap pelaku di 4 TKP semalam: Punia, Depan Epic, dan Udayana. Bongkar markas dan ketua gengnya.
  3. Lakukan razia besar-besaran setiap malam di Punia, Epicentrum, dan Udayana dari pukul 23.00 – 05.00 WITA.
  4. Aktifkan kembali Pos Kamling dan penerangan jalan di titik-titik rawan.

“Dari tuntutan tersebut perlu juga diperhatikan dalam upaya penguatan dan peningkatan implementasi hukum dari undang-undang yang telah ada baik undang-undang nasional maupun regional perlu ditekankan,” katanya dengan tegas.

Penegasan Hukum dan Regulasi Untuk Pencegahan

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *