Duta Besar Iran Soroti Serangan Israel dan Perang Narasi, Apresiasi Sikap Pemerintah Indonesia

Duta Besar Iran Soroti Serangan Israel dan Perang Narasi, Apresiasi Sikap Pemerintah Indonesia
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, Senin (02/3/2026) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Duta Besar Iran Soroti Serangan Israel dan Perang Narasi, Boroujerdi menilai Amerika Serikat dan Israel menggunakan isu demokrasi dan hak asasi manusia sebagai alat politik untuk menekan negara lain.

Jakarta, Indonesia jurnalis – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan resmi terkait serangan Israel ke Iran pada minggu 1 Maret 2026, yang menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Ayatullah Sayyid Ali Khamene’i. Senin (02/3/2026) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam keterangannya, Boroujerdi menyoroti kebijakan sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Iran sejak 2010. Ia menyebut sanksi tersebut sangat berat dan berdampak luas terhadap negaranya.

“Sejak tahun 2010 Amerika memberlakukan berbagai sanksi yang sangat berat terhadap Iran,” ujarnya.

Ia juga menyinggung peristiwa pada 2020, ketika menurutnya Amerika Serikat turun tangan secara langsung dalam pembunuhan seorang jenderal senior Iran. Boroujerdi menyebut tokoh tersebut sebagai figur berpengalaman dan berpengaruh di negaranya.

Lebih lanjut, ia menuding adanya provokasi yang dilakukan terhadap Israel, termasuk insiden penyerangan terhadap kantor konsulat Iran di luar negeri pada 2024. Ia juga menyebut adanya dorongan dan dukungan dari Amerika Serikat dalam berbagai bentuk tekanan, baik militer, ekonomi, maupun terhadap masyarakat sipil.

Menurut Boroujerdi, pada Juni 2025, dengan dukungan Amerika Serikat dan penggunaan persenjataan modern, terjadi penyerangan selama 12 hari yang menewaskan banyak pejabat senior dan panglima di Iran. Ia menyebut serangan tersebut membawa dampak luas, termasuk tekanan ekonomi yang memicu ketidakpuasan di dalam negeri.

“Mereka menciptakan ketidakpuasan ekonomi di negara kami, masyarakat turun ke jalan, kemudian aksi damai itu dimanfaatkan untuk menciptakan korban yang banyak,” katanya.

Boroujerdi menilai Amerika Serikat dan Israel menggunakan isu demokrasi dan hak asasi manusia sebagai alat politik untuk menekan negara lain.

Baca Juga  Debt Kolektor Kembali Berulah Tusuk Seorang Advokat Pengurus KAI DPD Banten 

“Mereka ingin mengedepankan dan menyebarluaskan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia, tetapi hal-hal mulia ini disalahgunakan sebagai alat untuk memberikan tekanan dan menyerang setiap negara,” ujarnya.

Ia juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai “perang kedua”, yakni perang narasi. Menurutnya, media-media arus utama yang berafiliasi dengan Amerika Serikat kerap memutarbalikkan fakta di lapangan.

“Perang yang kedua adalah perang narasi. Para pemilik media mainstream yang berafiliasi dengan Amerika Serikat menggantikan tempat hak dengan kebatilan, menggantikan kebenaran dengan kebohongan,” tegasnya.

Boroujerdi mengatakan sebelum konflik bersenjata terjadi, pihaknya telah mengingatkan bahwa perang hanya akan membawa dampak buruk, bukan hanya bagi Iran, tetapi juga bagi kawasan dan ekonomi global.

Redaksi
Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *