Empat Pejabat Dilaporkan Kuasa Hukum Eduard Kamaleng ke Satgas PKH, Terkait Perusakan Hutan Lindung diduga di lakukan PT.BATAMAS INDAHPERMAI
Jakarta, Indonesia jurnalis – Kuasa hukum warga Tangki 1000 Kota Batam Eduard Kamaleng, S.H, M.H., melaporkan dugaan perusakan kawasan hutan lindung di wilayah Punggur, Jalan Pramuka, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau. Perusakan hutan tersebut diduga di lakukan perusahaan PT.BATAMAS INDAHPERMAI serta menyeret sejumlah nama pejabat.
Advokat Eduard Kamaleng selaku kuasa hukum warga mengatakan laporan itu diajukan atas nama 103 warga yang sebelumnya tinggal di wilayah Bukit Villa Tangki 1000, Kelurahan Kampung Seraya, Kecamatan Batu Ampar, Batam.
Menurut Eduard, persoalan bermula ketika warga mendapat tawaran relokasi dari Zainal Lewaimang yang pada saat itu mewakili (kuasa) PT.BATAMAS INDAHPERMAI memberitahukan kepada warga bahwa rumah tempat tinggal dan kebun warga akan segera digusur dengan ketentuan akan diberikan uang paku sebesar Rp 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) perrumah dan kavling 1 buah berukuran 6 x 10 M di wilayah Punggur Jl. Pramuka Kelurahan Kabil Kecamatan Nongsa Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau.
Namun, ia menyebut pihak perusahaan tidak menjelaskan secara jelas status legal kavling tersebut apakah berasal dari alokasi resmi Badan Pengusahaan (BP) Batam atau tidak.
“Karena status kavling tidak jelas, klien kami memilih tidak menerima tawaran tersebut dan menolak untuk dipindahkan dari tempat tinggal mereka,” kata Eduard dalam keterangannya kepada media, Jumat (11/3/2026) di Kawasan Depok Lenteng agung Jakarta Selatan
Eduard menjelaskan penolakan warga berujung pada penggusuran yang dilakukan oleh Tim Terpadu Kota Batam pada 5 Juli 2023. Dalam peristiwa itu, rumah dan kebun milik warga dibongkar.
Ia mengatakan sebagian warga melakukan perlawanan karena mempertahankan tempat tinggal mereka. Akibatnya, 11 orang warga ditangkap oleh aparat Polresta Barelang dan diproses hukum hingga ke Pengadilan Negeri Batam dengan tuduhan melawan petugas.
Seiring berjalannya waktu, pihak kuasa hukum kemudian menelusuri status lahan yang ditawarkan kepada warga. Pada 23 September 2024 mereka mengajukan permohonan penjelasan kepada Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XII Tanjungpinang.
Dalam surat balasan tertanggal 26 September 2024, BPKH menyatakan bahwa seluruh areal yang dimohonkan untuk ditelaah berada dalam kawasan hutan lindung.
“Dari hasil penjelasan BPKH, seluruh area tersebut merupakan kawasan hutan lindung. Artinya, jika benar dijadikan kavling oleh perusahaan, maka itu bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan,” ujarnya.




