Kanker Paru Masih Jadi Ancaman Serius, Dorong Pencegahan, Deteksi Dini dan Penguatan Layanan
JAKARTA , Indonesia Jurnalis – Kanker paru masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan edukasi dan diskusi memperingati Hari Kanker Paru Sedunia yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (18/8/2026).
Acara di pandu Moderator Dr. Ungky Agus Setyawan Sp.P(K) dan di hadiri secara virtual oleh beberapa narasumber seperti, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), DR. Dr. Arif Riadi Arifin, Sp.P(K) dan Dr. Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR
Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kanker paru tersebut menyoroti pentingnya pencegahan, pengendalian faktor risiko, deteksi dini, diagnosis yang tepat, hingga pemerataan akses layanan kesehatan.
Hari Kanker Paru Sedunia sendiri diperingati setiap 1 Agustus sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai bahaya kanker paru, faktor risiko, pencegahan serta pentingnya deteksi dini. Tema kampanye tahun 2026 adalah “Together Through Lung Cancer”, yang menekankan bahwa pasien kanker paru tidak seharusnya menghadapi penyakit tersebut seorang diri.
Dalam paparan materi, Dr. Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR, Kanker paru disebut bukan sekadar persoalan klinis, tetapi telah menjadi isu kesehatan publik. Keterlambatan menemukan penyakit dapat menurunkan peluang mendapatkan terapi kuratif dan pada saat yang sama meningkatkan kebutuhan terhadap terapi paliatif.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa beban kanker di Indonesia masih sangat besar. Tercatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.099 kematian akibat kanker pada 2022. Khusus kanker paru, estimasi yang ditampilkan mencapai sekitar 38.904 kasus baru per tahun dengan sekitar 34.339 kematian per tahun.
Angka tersebut menggambarkan tingginya mortalitas kanker paru dibandingkan jumlah kasus barunya. Dalam materi disebutkan bahwa kanker paru juga menjadi kanker dengan angka kejadian tertinggi pada laki-laki, sekaligus menjadi salah satu kanker dengan beban kematian yang sangat besar.
Kanker paru bukan hanya isu klinis, tetapi isu kesehatan publik. Ketika ditemukan terlambat, peluang kuratif menurun dan kebutuhan terapi paliatif meningkat. Kebijakan pengendalian risiko, deteksi dini, dan pemerataan layanan harus berjalan bersamaan.
Rokok Menjadi Tantangan Terbesar
Salah satu faktor yang mendapat perhatian besar dalam diskusi adalah kebiasaan merokok dan paparan asap rokok.
Dalam paparan disebutkan, sekitar 34,5 persen orang dewasa menggunakan tembakau, sementara pada kelompok laki-laki dewasa angkanya mencapai 65,5 persen. Selain itu, paparan asap rokok juga masih ditemukan di ruang publik dan tempat kerja.
Sekitar 74,2 persen responden disebut terpapar asap rokok di restoran, sedangkan 44,8 persen terpapar asap rokok di tempat kerja.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian tembakau tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan individu, tetapi juga membutuhkan dukungan lingkungan dan kebijakan.
“Nikotin menyebabkan ketergantungan; berhenti merokok memerlukan dukungan berulang. Paparan sosial tinggi membuat rokok mudah diakses dan dinormalisasi dalam banyak lingkungan,” demikian salah satu poin dalam materi yang disampaikan.
Karena itu, upaya berhenti merokok dinilai perlu menjadi bagian rutin dari layanan kesehatan, termasuk layanan kanker paru.
Tidak merokok, berhenti merokok, dan melindungi keluarga dari asap rokok adalah bentuk perlindungan kanker paru.”
Deteksi Dini Masih Menghadapi Banyak Kendala
Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah rendahnya kualitas dan cakupan deteksi dini. Dalam materi disebutkan bahwa skrining belum berjalan secara optimal, sementara kanker paru sering kali baru diketahui ketika pasien sudah memasuki stadium lanjut.
Alur deteksi yang ideal meliputi kelompok berisiko, konseling risiko, pemeriksaan **LDCT sesuai indikasi**, evaluasi nodul atau kelainan paru, hingga rujukan secara cepat dan tepat ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai kendala, antara lain pemerataan akses terhadap LDCT, radiologi toraks, bronkoskopi dan patologi. Selain itu, kelompok berisiko tinggi belum seluruhnya mendapatkan skrining yang terstandar.
Materi juga menekankan bahwa skrining tanpa tindak lanjut yang kuat justru berisiko menjadi “temuan tanpa jalan keluar”. Karena itu, skrining harus dibarengi dengan sistem rujukan, edukasi, monitoring, follow-up, serta integrasi layanan berhenti merokok.
Gejala Sering Dianggap Penyakit Biasa
Kanker paru juga memiliki tantangan tersendiri karena gejala awalnya sering kali tidak khas.




