Batuk, sesak, nyeri dada, maupun penurunan berat badan dapat dianggap sebagai keluhan akibat penyakit pernapasan biasa. Kondisi tersebut dapat membuat pasien terlambat memeriksakan diri.
Selain gejala yang samar, terdapat pula persoalan tumpang tindih gejala dengan penyakit lain, stigma terhadap pasien kanker atau perokok, akses pelayanan yang bertahap, serta waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
Akibatnya, semakin lama diagnosis ditegakkan, semakin kecil peluang pasien memperoleh terapi kuratif dan semakin besar beban biaya serta kehilangan produktivitas.
Mayoritas Pasien Datang pada Stadium Lanjut
Dalam paparan tersebut juga disebutkan bahwa sekitar 70–80 persen pasien kanker paru didiagnosis pada stadium lanjut
Pasien yang datang pada stadium III hingga IV umumnya membutuhkan terapi sistemik dan memiliki tantangan lebih besar dalam memperoleh hasil pengobatan yang optimal.
Karena itu, waktu menjadi faktor penting dalam perjalanan pasien kanker paru, mulai dari munculnya gejala, diagnosis, penentuan stadium hingga dimulainya terapi.
Setiap keterlambatan dapat memperbesar beban klinis dan mempersempit pilihan terapi yang tersedia.
Dokter Didorong Memperkuat Layanan Onkologi Paru.
Dalam diskusi tersebut, dokter paru di seluruh Indonesia didorong untuk terus meningkatkan layanan onkologi toraks dan terapi sistemik serta memperkuat kolaborasi multidisiplin.
Peningkatan layanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan diagnosis dan terapi, tetapi juga membutuhkan sistem rujukan yang cepat, fasilitas yang memadai, ketersediaan obat, registrasi kanker, serta penguatan data nasional.
Upaya tersebut penting agar pasien tidak berhenti pada tahap diagnosis, tetapi dapat memperoleh pelayanan secara berkelanjutan sampai tahap pengobatan dan pendampingan.
Pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, masyarakat, pasien dan keluarga dinilai memiliki peran yang sama penting dalam pengendalian kanker paru.
Untuk masyarakat, pesan yang disampaikan cukup sederhana: jangan mengabaikan batuk lama, sesak, batuk darah, nyeri dada atau penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Sementara bagi tenaga kesehatan, penguatan identifikasi faktor risiko, percepatan rujukan dan evaluasi secara multidisiplin menjadi bagian penting dalam meningkatkan keberhasilan penanganan.
Bagi pemangku kebijakan, pengendalian tembakau, akses skrining, penguatan registri kanker, ketersediaan obat serta pemerataan layanan kanker paru menjadi agenda yang harus terus diperkuat.
Momentum Hari Kanker Paru Sedunia pada akhirnya bukan sekadar peringatan tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan kanker paru membutuhkan gerakan bersama—mulai dari mencegah paparan risiko, berhenti merokok, menemukan penyakit lebih awal, mendapatkan diagnosis yang tepat, memperoleh terapi yang sesuai, hingga mendampingi pasien dan keluarganya.
Together Through Lung Cancer bersama menutup celah dari risiko, skrining, diagnosis, terapi hingga dukungan pasien. Tidak ada pasien yang seharusnya berjuang sendirian.
Data dan materi edukasi yang dipaparkan juga sejalan dengan perhatian nasional terhadap pentingnya pencegahan serta deteksi dini kanker. Kementerian Kesehatan sebelumnya menegaskan bahwa menemukan kanker sedini mungkin merupakan salah satu kunci penting untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.*
(Lucky P)
(Editor NK)




