“Betawi itu sangat terbuka. Sebagai penduduk asli Jakarta, kami memiliki peran penting dalam pembangunan kota ini,” tambahnya.
KH Abdul Hamid, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hamid Putra, turut menyampaikan ucapan selamat kepada Pramono Anung atas terpilihnya sebagai Gubernur DKJ sekaligus atas penganugerahan gelar kehormatan adat Betawi.
“Kami ucapkan selamat kepada Pramono Anung. Matur suon banget sudah hadir dalam acara penganugerahan ini,” ujar KH Abdul Hamid dengan nada bercanda menggunakan gaya bahasa Jawa.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyematan pin serta penyerahan Surat Keputusan Dewan Adat Kaum Betawi yang secara resmi mengukuhkan Pramono Anung sebagai “Abang” Kehormatan Adat Betawi. Acara ini turut disaksikan oleh berbagai tokoh adat dan masyarakat.
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang hadir sebagai Dewan Adat Kaum Betawi, menyampaikan apresiasinya kepada Pramono Anung, Rano Karno, serta seluruh tokoh adat yang berkontribusi dalam acara ini.
“Kaum adat secara resmi telah memberikan gelar kehormatan kepada Pramono Anung dan Rano Karno, merujuk pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 yang mengatur tentang lembaga adat dalam pengembangan budaya Betawi,” jelas Fauzi Bowo.
Ia juga menekankan pentingnya peran adat dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Jakarta serta membangun hubungan harmonis antara pemerintah dan masyarakat adat Betawi.
“Kami berharap Gubernur dapat terus menjalin silaturahmi dengan komunitas adat Betawi serta mendukung keberagaman budaya di Jakarta tanpa ada sekat pembatas,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono Anung menegaskan komitmennya dalam memajukan budaya Betawi, salah satunya dengan mengalokasikan dana abadi untuk pengembangan adat dan budaya Betawi.
“Kami juga akan menata kota dengan memberikan batas-batas kecamatan yang dilengkapi gapura khas Betawi dengan arsitektur yang indah,” ungkapnya.
Selain itu, ia berjanji akan memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Acara penganugerahan gelar kehormatan ini ditutup dengan doa bersama, menandai dukungan penuh dari masyarakat Betawi kepada kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno di Jakarta selama lima tahun ke depan.**




